Nusatime.com, WONOGIRI – Sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama tahun 2026. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) mengalami lonjakan cukup signifikan.
Namun, lonjakan kunjungan ini berbanding terbalik dengan angka keterisian hotel dan penginapan yang cenderung stagnan. Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Wonogiri yang dirilis pada 4 Agustus 2026 mencatat akumulasi perjalanan wisnus dengan tujuan Kabupaten Wonogiri periode Januari-Juni 2026 mencapai 2.300.090 atau 2,30 juta perjalanan.
Angka tersebut naik 7,72 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Khusus bulan Juni 2026, angka kunjungan tercatat menyentuh 361.070 perjalanan, atau tumbuh 12,42 persen dibanding Juni tahun lalu (year-on-year).
Meski kunjungan wisatawan melesat, performa bisnis akomodasi di Wonogiri belum berbanding lurus. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang maupun nonbintang di Wonogiri pada Juni 2026 hanya berada di angka 26,69 persen. Angka ini hanya naik tipis 0,20 poin dibanding Mei 2026 yang sebesar 26,49 persen.
Selain itu, Rata-rata Lama Menginap (RLM) atau length of stay tamu hotel juga masih tergolong sangat singkat, yaitu 1,05 malam. Artinya, mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Wonogiri memilih untuk langsung pulang (one day trip) atau tidak bermalam di hotel atau penginapan komersial yang ada.
Fenomena tingginya mobilitas wisatawan yang belum berimbang dengan okupansi hotel ini membuka peluang besar bagi keterlibatan masyarakat lokal, khususnya dalam penyediaan homestay atau penginapan berbasis komunitas.
Objek Wisata Alam Pedesaan
Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Wonogiri, Haryanto, mengungkapkan karakteristik wisatawan di Wonogiri saat ini makin menyukai objek wisata alam yang tersebar hingga ke pelosok desa. Di samping itu, ia juga tidak menampik bahwa Wonogiri menjadi kawasan lalu lintas dibanding menginap.
“Jadi kenaikan itu memang terasa dalam momen-momen tertentu, tapi di saat yang bersamaan juga banyak dari wisatawan yang ke Wonogiri tapi menginapnya di Solo atau Solo Baru, Sukoharjo, sehingga okupansi hotel atau penginapan tidak mengalami kenaikan seperti perjalanan wisata,” kaya Haryanto kepada Espos, Kamis (6/8/2026).
Keberadaan destinasi wisata baru maupun revitalisasi objek wisata lama menjadi magnet kuat bagi pengunjung. Haryanto menyebutkan beberapa objek wisata andalan yang menjadi daya tarik utama wisatawan saat ini, di antaranya revitalisasi kawasan pesisir Pantai Klotok dan Pantai Soko Langit, keindahan Waduk Gajah Mungkur (WGM), hingga pesona panorama ketinggian di Gantole dan Giri Senang.
Selain itu, daya tarik wisata alam perdesaan seperti Air Terjun Melayang dan kawasan wisata Kahyangan juga terus memikat minat pelancong luar daerah. Kondisi itu mendorong Disporapar melakukan penguatan di desa wisata untuk memperkuat kapasitas warga dalam mengelola pondok wisata (homestay) yang bersih, nyaman, dan berstandar, guna menampung potensi tumpahan wisatawan yang terus bertumbuh tiap tahunnya.
“Sebagian besar destinasi populer kita berada di area perdesaan atau pesisir selatan yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota tempat hotel-hotel beroperasi. Kondisi ini sebenarnya menjadi peluang emas bagi warga setempat untuk mengembangkan homestay. Itu kami perkuat melalui desa wisata yang tersebar. Karena dengan begitu, masyarakat nantinya bisa merasakan langsung dampak ekonomi dari pariwisata,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan penginapan yang dikelola langsung oleh masyarakat desa sekitar objek wisata dapat menjadi solusi efektif atas stagnasi RLM hotel sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan secara langsung. Wisatawan tidak perlu terburu-buru pulang dan bisa menikmati suasana pedesaan Wonogiri lebih lama.

Leave a Reply