Nusatime.com, KLATEN – Panggung pentas wayang kontemporer yang mengangkat lakon Sang Gatotkaca sukses digelar di Alun-alun Klaten, Rabu (19/8/2026) malam. Hibridisasi wayang kontemporer itu menampilkan wajah lain dari panggung pentas wayang yang selama ini digelar di Klaten.
Pentas malam itu menggabungkan unsur budaya tradisional wayang kulit, tari, serta wayang orang dengan unsur modern, mulai dari tata visual hingga musik dalam satu panggung.
Pentas melibatkan 222 seniman asal Klaten, mulai dari dalang, pengrawit, sinden, pengiring musik, penari hingga wayang orang. Jumlah itu sesuai dengan angka Hari Jadi Klaten tahun ini, yakni 222. Penampil yang terlibat mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
Pentas wayang kulit disajikan oleh tiga dalang, yakni Ki Suluh Juniarsah, Ki Sigit Sukasman, dan Ki MPP Bayu Aji dari balik layar. Blencong atau cahaya layar yang biasanya menggunakan lampu diganti dengan proyektor. Bayangannya dipantulkan pada layar panggung dengan latar belakang lebih berwarna dan hidup.
Penampilan pentas wayang kulit itu dikolaborasikan dengan sajian tarian serta wayang orang. Di tengah pertunjukan, seniwati senior Indonesia asal Klaten, Suyati atau yang akrab dikenal dengan Yati Pesek, menambah warna pada pertunjukan malam itu.
Penampilan dagelan dari dua dalang pada malam itu sukses mengocok perut penonton yang memadati alun-alun. Penonton berasal dari berbagai usia, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak, termasuk banyak penonton dari kalangan muda.
Pentas hibridisasi wayang kontemporer itu tak hanya menampilkan suguhan pelestarian budaya dengan kemasan berbeda. Banyak pesan moral yang disampaikan pada pementasan.
Pesan-pesan itu dikaitkan dengan kondisi sosial kekinian, salah satunya untuk menghindari kejahatan jalanan. Malam itu mengisahkan lakon tentang asal-usul dan proses penggemblengan Gatotkaca.
Puncak pementasan malam itu menyuguhkan atraksi Gatotkaca yang turun dari atas backdrop layaknya melayang di udara. Atraksi ini menjadi elemen kejutan hingga memukau penonton.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengungkapkan pentas wayang malam itu disajikan berbeda dari pentas wayang kulit yang rutin digelar saban peringatan Hari Jadi Klaten. Pementasan hibridisasi wayang kontemporer tersebut berawal dari obrolan bersama para seniman.
“Ini menjadi kado istimewa untuk Kabupaten Klaten di hari jadinya. Ini kolaborasi yang hebat dari para seniman dan budayawan, sinden, pengrawit komplit semuanya dari berbagai usia menyajikan sesuatu yang menarik, berbeda dari biasanya,” jelas Hamenang.

Leave a Reply