Nusatime.com, SRAGEN — Bank Djoko Tingkir Sragen menggelar Festival Layang-layang bertajuk Pterosaurus Kite Competition Part 2 di halaman Kantor Terpadu Pemda Sragen, Minggu (30/8/2026). Agenda itu diikuti kurang lebih 30 peserta yang tak hanya berasal dari Sragen, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mereka berasal dari Kebumen, Boyolali, Klaten, Magelang, Kulon Progo, dan Kota Jogja. Festival dibuka langsung Direktur Utama Bank Djoko Tingkir Sragen, Titon Darmasto. Mereka memperebutkan hadiah total senilai Rp10 juta.
Festival Layang-Layang 2026 jadi event kali kedua setelah pada 2025 lalu acara serupa sukses digelar di lokasi yang sama, depan Kantor Terpadu Pemda Sragen. Puluhan peserta mengikuti tiga kategori, yakni layang-layang tradisional, layang-layang dua dimensi, dan layang-layang tiga dimensi.
Direktur Utama Bank Djoko Tingkir Sragen, Titon Darmasto, kepada Espos, Minggu siang, mengungkapkan festival layang-layang berlangsung dari pagi hingga sore hari. Meskipun terik matahari cukup menyengat di siang hari, kata dia, antusiasme peserta dan penonton luar biasa. Ratusan warga dari berbagai daerah memadati arena terbuka di depan Kantor Terpadu Pemda Sragen.
“Kami, bank milik Pemerintah Kabupaten Sragen menyelenggarakan festival layang-layang. Ini merupakan event kedua kami di tahun 2026. Event pertama kami di tahun 2025. Festival layang-layang memang event rutin dalam rangka rangkaian Hari Jadi ke-34 Bank Djoko Tingkir Perseroda,” ujar Titon.
Memori Dunia Purba
Titon menjelaskan festival layang-layang menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Bank Djoko Tingkir Sragen. Dia menjelaskan tema Pterosaurus Kite Competition Part 2 sengaja diambil untuk mengingat kembali memori masa purba yang menjadi ikon Kabupaten Sragen.
Lewat festival layang-layang, Titon ingin membangkitkan memori dunia purba dengan adanya manusia purba di Sangiran. Atas dasar itu, Titon menyatakan Sragen menjadi daerah dengan peradaban tua sehingga Bupati mengambil tagline The Land of Java Man.
Titon melihat antusiasme warga pada event kedua meningkat bila dibandingkan tahun lalu. Bermain layang-layang, kata dia, tidak sekadar mainan kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Dia berpendapat mainan layang-layang merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.
“Model layang-layang berkembang menjadi modern, mulai model tradisional sampai dua dimensi dan tiga dimensi, sehingga bisa menyentuh lintas generasi,” ujar dia.
Ketua Panitia Festival Layang-layang, Jarot Agus Samrinugroho, mengatakan pengambilan tema bertujuan agar warisan budaya purba mampu bersinergi, berkolaborasi, dengan komoderanan.
Dia menyampaikan antusias warga dapat dilihat dari banyaknya warga yang memenuhi area parkir Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) dan Kantor Terpadu Pemda Sragen. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut serta berpartisipasi.

Leave a Reply