Saat manusia sadar dirinya adalah sebuah produk, maka sejak itulah manusia menyadari pentingnya personal branding. Peter Montoya dalam bukunya The Personal Branding Phenomenon mendefinisikan personal branding sebagai proses yang memungkinkan individu untuk mengontrol bagaimana mereka ingin dikenali oleh dunia.
Perspektif ini menyoroti pentingnya kendali dan strategi dalam membangun citra diri. Definisi kurang lebih serupa juga diungkapkan Philip Kotler dalam buku Marketing Management (2016). Menurutnya, personal branding merupakan bagian integral dari strategi pemasaran individu.
Saat manusia menyadari dirinya sebagai sebuah produk, mereka akan membangun citra diri seperti yang mereka inginkan baik melalui busana, kendaraan, prestasi, perilaku, dan sebagainya. Cara termudah untuk personal branding adalah melalui penampilan dan hal-hal berbau materialistik.
Hal-hal berbau materialistik bisa langsung terlihat oleh orang lain. Misalnya pakaian bermerek, sepatu, tas, perhiasan, hingga liburan mewah. Untuk mengejar validasi dianggap sukses dan kaya raya itu, tidak sedikit akhirnya terjebak dalam budaya flexing dan terjerat utang. Tidak peduli besar pasak daripada tiang alias lebih besar pengeluaran/utang daripada pendapatan.
Tidak sedikit orang rela naik mobil mewah, meski menanggung cicilan yang mencekik leher. Kondisi keuangan pun sudah tak lagi sehat. Yang penting citra diri di mata orang lain terlihat sukses dan kaya raya. Di satu sisi, orang yang benar-benar kaya seperti Elon Musk atau Timothy Ronald justru berpenampilan sederhana. Bahkan Elon Musk hanya mengenakan kaus oblong saat bertemu Presiden Joko Widodo pada 2022 lalu.
Sebaliknya ada pula deretan artis, pesohor, hingga miliarder memilih untuk tampil sederhana. Artis Korea pop (K-pop) yang juga merupakan anggota boyband EXO, Sehun, pernah terlihat mengenakan sandal jepit Swallow. Gegara dipakai Sehun, harga sandal jepit ini sempat melejit hingga ratusan ribu rupiah.
Bisa jadi mereka sudah tak butuh validasi. Mereka tak lagi peduli dicap berpenampilan seperti gembel. Karena mereka tak meletakkan nilai diri mereka kepada kebendaan. Uniknya sejumlah brand besar dunia mengeluarkan produk fashion yang meniru busana tunawisma yaitu sobek-sobek, lusuh, berlubang, dan rusak (distress atau destroyed fashion). Kaus sobek, celana jins sobek, hingga jaket yang terlihat rusak ini dijual dengan harga fantastis.
Salah satu brand, Balenciaga, pernah merilis “Destroyed Jacket” seharga sekitar Rp15 juta–Rp16 juta yang sengaja dibuat robek-robek, bolong, dan kusut. Meski terlihat rusak, produk ini langsung habis terjual dalam waktu 24 jam. Selain itu, mereka juga terkenal dengan koleksi sweater rajut bolong-bolong seharga Rp27 juta.
Merek ini juga pernah mengeluarkan tas yang bentuknya mirip kantong plastik berwarna kuning terang. Produk ini dibanderol dengan harga Rp30 juta. Pada 2022, brand ini juga meluncurkan tas mirip kantong plastik. Produk ini dijual dengan harga Rp17 jutaan.
Meski terlihat seperti pakaian tunawisma, produk fashion itu nyatanya laku di pasaran. Sejumlah selebritas lokal dan dunia terlihat memakai kaus sobek, celana jeans berlubang, atau jaket sobek-sobek.
Pemain sinetron Ikatan Cinta, Amanda Manopo, beberapa waktu lalu, sempat membuat heboh warganet karena outfitnya. Dalam unggahan akun Instagram-nya, ia tampak mengenakan hoodie hitam panjang sobek-sobek. Jaket hoodie bolong-bolong yang dikenakan Amanda Manopo ini merupakan keluaran rumah mode ternama Givenchy yang dijual dengan harga Rp21 juta.
Tentu hanya orang benar-benar berduit mau-mau saja membeli produk fashion compang-camping tersebut. Sedangkan bagi kaum mendang-mending seperti saya, tentu saja akan berpikir seribu kali untuk memakai produk fashion itu. Pakaian compang-camping hingga tas menyerupai kantong kresek tentu tidak akan membangun image sebagai orang sukses dan kaya di mata orang lain.
Lain halnya dengan mereka yang sudah benar-benar kaya dan tak butuh lagi validasi bahwa mereka kaya. Mereka tak lagi peduli dengan busana yang mereka kenakan dan orang tidak mungkin memandang rendah mereka hanya dari penampilan. Apakah salah melakukan branding melalui penampilan? Tentu saja tidak. Berbusana yang baik dan rapi merupakan bagian dari cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain. Hidup dan berpenampilanlah sesuai kemampuan finansial, tidak perlu memaksakan diri hanya demi validasi.
Ukuran kesuksesan bukan semata dinilai dari sisi material, melainkan dari nilai diri yang kita bawa. Seperti Elon Musk, dia tetap dapat bertemu Presiden Joko Widodo sekali pun memakai kaus oblong. Karena orang melihat value yang dia miliki. Meski dikenal sebagai orang terkaya di bumi, Elon Musk punya value dan karya yang bisa dibanggakan.
Jadi bagaimana? Apakah sebaiknya kita ingin terlihat miskin atau terlihat kaya? Kembali ke pilihan masing-masing. Namun alangkah baiknya bila kita fokus untuk menaikkan kualitas diri dan tampil bersahaja agar kita menjadi pribadi penuh makna. Jangan hanya mengejar validasi. Jangan pula menuruti gengsi. Alih-alih mengejar gengsi, lebih baik memperkuat kondisi finansial di kondisi perekonomian seperti sekarang ini. (S)
Astrid Prihatini W.D.
Jurnalis Daerah Media Group

Leave a Reply