Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol keluar sebagai juara dunia. Namun, bagi Indonesia, pelajaran terbesar dari turnamen itu bukan hanya keberhasilan La Roja mengangkat trofi.
Keberhasilan Uzbekistan dan Cape Verde tampil untuk kali pertama di panggung sepak bola dunia justru menunjukkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui pembinaan usia dini yang konsisten.
Inilah pelajaran paling berharga yang seharusnya dipetik Indonesia dari Piala Dunia 2026.
Bagi Indonesia, Uzbekistan menjadi contoh paling relevan. Sama-sama berasal dari Asia dan bukan kekuatan tradisional sepak bola di level dunia, Uzbekistan mampu membuktikan pembinaan yang terarah dapat mengubah peta persaingan.
Dalam artikel resmi FIFA berjudul Daring, Delighting, Delivering: Uzbekistan Living Its Football Dream, Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Uzbekistan, Ravshan Irmatov, menjelaskan negaranya membangun jalur pembinaan yang terintegrasi, mulai dari sekolah olahraga, akademi, hingga pusat performa nasional.
Program FIFA Football for Schools, peningkatan kualitas pelatih, dan pembangunan infrastruktur dijalankan secara beriringan.
Hasilnya tidak datang dalam semalam. Sebelum lolos ke Piala Dunia senior, Uzbekistan lebih dahulu menjuarai Piala Asia U-20 2023, menjadi juara Piala Asia U-17 2025, dan rutin tampil di berbagai turnamen kelompok umur. Prestasi tim senior hanyalah puncak dari pembinaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Pelajaran serupa datang dari Cape Verde. Negara kepulauan di Afrika Barat yang hanya berpenduduk sekitar 530.000 jiwa itu berhasil menembus Piala Dunia setelah berinvestasi secara konsisten pada akademi sepak bola.
Reuters melaporkan Akademi Bola Pra Frente di Praia membina ratusan anak sejak usia empat tahun dan telah melahirkan sejumlah pemain tim nasional. Negara kecil itu membuktikan bahwa prestasi lebih ditentukan oleh kualitas pembinaan daripada besarnya populasi.
Spanyol memberikan pelajaran yang berbeda. La Roja menjadi juara dunia berkat sistem pembinaan yang dijaga selama puluhan tahun melalui akademi-akademi elite seperti La Masia milik Barcelona, Lezama milik Athletic Bilbao, dan La Fabrica milik Real Madrid.
FC Barcelona bahkan mencatat sembilan lulusan La Masia tampil pada final Piala Dunia 2026. Akademi bukan sekadar menghasilkan pemain untuk klub, tetapi juga menjadi tulang punggung tim nasional.
Dari tiga negara tersebut muncul satu kesimpulan sederhana. Mereka tidak menunggu lahirnya generasi emas, melainkan membangun sistem agar generasi emas terus lahir.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Target lolos ke Piala Dunia 2030 yang digaungkan PSSI bukanlah mimpi yang mustahil. Bertambahnya jumlah peserta menjadi 48 negara membuat peluang wakil Asia semakin terbuka.
Dalam beberapa tahun terakhir, tim nasional senior juga menunjukkan perkembangan positif. Program naturalisasi meningkatkan kualitas skuad dan membuat optimisme publik semakin besar.
Namun, waktu empat tahun menuju 2030 tidaklah panjang. Indonesia tidak mungkin membangun generasi baru dari nol. Karena itu, naturalisasi masih akan menjadi salah satu instrumen penting.
Meski demikian, pengalaman Spanyol, Uzbekistan, dan Cape Verde menunjukkan bahwa tim nasional yang kuat tidak pernah dibangun hanya dari skuad senior. Tim yang tangguh lahir dari ekosistem sepak bola yang sehat.
Empat tahun ke depan seharusnya dimanfaatkan bukan hanya untuk membentuk tim terbaik, tetapi juga memperkuat fondasi sepak bola nasional. Kompetisi usia muda harus terus diperkuat agar menjadi jalur nyata menuju sepak bola profesional.
Elite Pro Academy (EPA) perlu dikembangkan sehingga mampu melahirkan lebih banyak pemain yang siap bersaing di level tertinggi. Klub juga perlu lebih berani memberi ruang kepada pemain muda dan tidak semata-mata bergantung pada pemain asing.
Selain kompetisi, kualitas pelatih usia muda juga harus menjadi perhatian. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pemain hebat lahir dari pelatih yang mampu mengembangkan potensi, bukan sekadar mengejar kemenangan di level kelompok umur.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan talenta. Gala Siswa Indonesia (GSI) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah diikuti lebih dari 51.000 pelajar menjadi buktinya.
Di sisi lain, Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menjalankan program Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional (SPOBNAS). Tantangannya adalah memastikan talenta yang ditemukan melalui sekolah, akademi, dan kompetisi memiliki jalur pembinaan yang jelas menuju klub profesional dan tim nasional.
Akademi sepak bola juga harus terus ditingkatkan kualitasnya, baik dari sisi kurikulum latihan, kompetensi pelatih, fasilitas, maupun keterhubungannya dengan kompetisi. Empat tahun memang bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk memperkuat fondasi jika dimanfaatkan secara konsisten.
Karena itu, naturalisasi dan pembinaan usia dini tidak perlu dipertentangkan. Naturalisasi dapat meningkatkan daya saing tim nasional dalam jangka pendek, sementara pembinaan memastikan Indonesia memiliki pasokan pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Jika target tampil di Piala Dunia 2030 benar-benar ingin diwujudkan, empat tahun ke depan harus dimanfaatkan bukan hanya untuk membangun tim nasional yang kompetitif, tetapi juga memperkuat fondasi sepak bola nasional.
Sebab pada akhirnya, tiket menuju Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh hasil di lapangan, melainkan juga oleh kualitas pembinaan yang dibangun jauh sebelum peluit kick off dibunyikan.

Leave a Reply