Nusatime.com, KLATEN — Kejelian melihat potensi pasar membuat tempat usaha di Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, ini rutin mengirimkan 15 ton nila hitam ke Pulau Papua. Ikan tersebut didatangkan dari para pembudidaya di Klaten, tepatnya dari Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo.
Tempat usaha itu bernama UD Putra Papua yang dikembangkan warga Gantiwarno. Sejak 2008, UD Putra Papua rutin mengirimkan nila hitam ke tanah Papua. Di balik kesuksesan tersebut, ada perjalanan panjang mengembalikan kepercayaan para pembudidaya.
Pemilik tempat usaha, Yustina Kusmanti, 53, menjelaskan pengiriman ikan nila hitam ke Papua bekerja sama dengan adiknya yang sudah lebih dulu membuka usaha warung makan bernama Klaten Indah.
Kini, tempat usaha itu mampu melebarkan sayap. Tak hanya di Papua, nila hitam asal Klaten kini memasuki pasar di pulau-pulau lainnya di Indonesia Timur salah satunya Ambon.
Meyakinkan Pembudidaya Nila di Ponggok
Yustina mengungkapkan saat awal merintis pada 2008, baru sedikit nila hitam yang dipasarkan di Papua. Per hari, Yustina baru bisa mendatangkan 250 kg. Salah satunya lantaran sedikitnya pembudi daya nila hitam di Klaten.
Kondisi ini dipengaruhi faktor trauma dari para pembudidaya di wilayah Ponggok ketika mengembangkan nila hitam. Dulu, nila hitam tak banyak dilirik jika dibandingkan nila merah.
“Pembudidaya di Ponggok itu untuk nila hitam trauma karena enggak laku. Yang laku itu nila merah. Nah, kami mau membalikkan traumanya pembudidaya itu,” kata Yustina saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (10/6/2026).

Butuh waktu setidaknya lima tahun bagi Yustina mengembalikan minat para pembudidaya kembali mengembangkan nila hitam. Tingkat produksi pun meningkat. Jika di awal baru bisa mendapatkan 250 kg per hari, kini UD Putra Papua mampu mendongkrak angka produksi menjadi 1,5 ton per hari. Seluruh ikan didatangkan dari Ponggok.
Kontrol Kualitas Ketat
Nila hitam yang dikirim ke Papua sudah melalui kontrol kualitas yang ketat. Ikan segar yang masih dalam kondisi hidup diolah di tempat usaha itu diawali dengan menghilangkan sisik serta jeroan.
Setelah berulang kali tahap pencucian, ikan memasuki tahap pengemasan, Nila hitam dipilah berdasarkan ukuran sebelum dikemas. Setelah itu, ikan dimasukkan ke freezer semalam dan dipindahkan ke karung berkapasitas 35 kg untuk disimpan ke cold storage. Selang 10 hari, ikan dikirim ratusan km dari Klaten menuju Indonesia Timur. Sekali kirim sebanyak 15 ton. Proses pengiriman menggunakan kontainer pendingin untuk menjaga kualitas ikan. Seluruh dokumen usaha juga dipastikan lengkap.
Targetkan Produksi 5 Ton, Siap Go Internasional
Nila hitam sangat diminati. Di Papua, nila hitam asal Klaten mampu menggeser dominasi ikan yang didatangkan dari Manado.
Soal kualitas, nila hitam disebut disebut lebih unggul dibandingkan nila merah. Lebih kenyal dan gurih. “Kalau nila hitam itu kalau proses penggorengannya tidak menggunakan bumbu macam-macam, cukup dioleh menggunakan garam rasanya sudah gurih,” kata Yustina.
Yustina kini dibantu sekitar 23 karyawan. UD Putra Papua menjadi tempat pemberdayaan bagi warga sekitar. Selain itu, tempat usaha tersebut berkolaborasi dengan 50 kelompok pembudidaya nila hitam di wilayah Ponggok. “Di sana satu kelompok itu banyak kolamnya. Ada yang 30 kolam, ada yang 10 serta ada yang 21 kolam,” ungkap Yustina.
Yustina berharap bisa terus meningkatkan angka produksi nila hitam dengan terus memberdayakan pembudidaya asal Klaten. Dia berharap bisa membudidayakan 5 ton nila hitam per hari.
Dia berharap kapasitas listrik bisa meningkat hingga mendukung kemampuan tempat usaha itu mengolah ikan segar dalam jumlah banyak. “Kami ingin usaha ini go internasional. Kmai ingin ekspor. Masalah perizinan ekspor, itu sudah ada. Permintaan juga sudah ada. Rencana itu ada permintaan ke Cina,” jelas Yustina.
Bupati Siap Membantu
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi UD Putra Papua yang bisa menggerakkan para pembudidaya lokal hingga mengirim ikan air tawar asli Klaten ke wilayah Indonesia Timur. Hal itu sekaligus menjadi bukti Klaten kaya akan sumber daya alam. Dengan kualitas air yang bagus, bisa menumbuhkan ikan-ikan berkualitas.
“Tadi disampaikan kalau beliau targetnya bisa 5 ton per hari. Ini akan kami bantu agar ke depan bisa mencapai target tersebut. Karena ternyata kebutuhan ikan di Papua itu luar bisa. Mungkin, ke depan bisa kami kembangkan enggak cuma ikan. Tetapi juga beras dan lain sebagainya,” jelas Hamenang seusai mengunjungi UD Putra Papua setelah rangkaian kegiatan Sambung Rasa di Desa Ceporan, Rabu.

Leave a Reply