Nusatime.com, SEMARANG – Para developer atau pengembang perumahan di Jawa Tengah (Jateng) berharap pemerintah segera menaikan harga rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang saat ini masih Rp166 juta. Sebab, konflik berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah telah berdampak pada kenaikan harga material untuk pembangunan perumahan.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional (Apernas) Jateng, Eko Purwanto, mengeluhkan harga meterial yang terus mengalami kenaikkan. Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah segera melakukan penyesuaian harga rumah subsidi yang harganya masih stagnan selama tiga tahun terakhir.
“Kalau kami harapkan sih pemerintah pusat juga melihat situasi lapangan, terkait rupiah melemah, material kian naik luar biasa mulai dari [besi] batangan sampai semeen, sedangkan rumah subsidi tiga tahun ini, tidak ada kenaikan,” keluh Eko kepada Espos, Jumat (15/5/2026).
Menurut Eko, sudah waktunya harga rumah subsidi mengalami kenaikan dari harga saat ini yang tetap bertahan di Rp166 juta. Bahkan, kenaikan paling ideal disebut mencapai 20,48% atau setara Rp200 juta.
“Dari harga sekarang, kalau untuk kenaikannya, harapan kita karena sudah tiga tahun enggak naik, ya kalau bisa di angka Rp190 sampai Rp200 jutaan sudah bagus lah,” harapnya.
Eko membenarkan jika pemerintah telah memberikan percepatan izin dan penghilangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk perumahan subsidi. Namun, kenaikan material saat ini dinilai sudah tak wajar, sehingga margin keuntungan bagi para developer kian menipis.
“itu semua memang membantu kami. Cuma kenaikan material ini sudah lumayan. Harapan kami, pemerintah mendengar keluh kesah terkait harga rumah subsidi yang masih bertahan di Rp166 juta,” tegasnya.
Tak hanya harga metirial, lanjut Eko, harga tanah di 35 kabupaten/kota juga terus alami kenaikan dari tahun ke tahun. Sehingga menaikan harga rumah subsidi, menurutnya merupakan sebuah langkah tepat.
“Tanah di Jawa juga kan sekarang sudah mulai naik nih. Tiap tahun malah. Senada dengan [material] itu, tentunya pemerintah pusat juga bisa mendorong untuk kenaikan harga subsidi ke depannya,” sambungnya.
Harga Material Naik hingga 20%
Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jateng, Sugiyatno. Dampak perang di Iran, menurutnya telah mempengaruhi kenaikan harga material hingga 20%.
“Geopolitik membuat industri perumahan khawatir. Salah satunya karena harga bahan material naik. Sehingga menjadi harapan harga rumah bisa naik di angka 13% [Rp187,58 juta] tahun depan,” harap Sugiyanto.
Sementara itu, Pemilik Toko Bangunan Subur Harapan di Kabupaten Boyolali, Rizal, 30, membenarkan jika kebutuhan material alami kenaikan signifikan. Ia pun terpaksa menaikan harga agar tetap untung meski dampaknya bisa ke penurunan omzet atau hilangnya pelanggan.
“Thiner dari seliter Rp19.000 sekarang Rp25.000. Semen juga naik dari Rp45.000 ke Rp48.000, plitur instan Rp95.000 ke Rp107.000. Terus cat juga all brand naik, perpakuan juga naik bertahap,” keluh Rizal melalui pesan singkat.

Leave a Reply