Nusatime.com, WONOGIRI — Perekonomian Kabupaten Wonogiri sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,67 persen. Angka ini meningkat dibandingkan pada 2024 yang tumbuh 4,97 persen. Kenaikan tersebut disebut menunjukkan geliat ekonomi daerah semakin menguat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri, Rahmad Iswanto, mengatakan secara umum performa perekonomian Wonogiri tahun 2025 membaik. Pertumbuhan 5,67 persen ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Capaian itu mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Wonogiri atas dasar harga berlaku (ADHB) pada 2025 mencapai Rp42,82 triliun. Angka itu naik sekitar Rp2,96 triliun dibandingkan 2024. Sementara PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp26,14 triliun.
Dengan nilai ekonomi sebesar itu, rata-rata pendapatan per kapita warga Wonogiri ikut meningkat. Pada 2025, PDRB per kapita mencapai Rp40,51 juta/tahun, naik 7,11 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp37,82 juta/tahun. “Artinya daya beli masyarakat relatif membaik,” kata Rahmad kepada Espos, Selasa (3/3/2026).
Dia menjelaskan struktur ekonomi Wonogiri masih ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 27,36 persen. Hampir sepertiga ekonomi daerah bertumpu pada sektor ini. Di posisi berikutnya ada industri pengolahan sebesar 19,18 persen dan perdagangan besar-eceran 15,82 persen.
Meski pertanian tetap menjadi tulang punggung, sektor dengan pertumbuhan paling cepat justru datang dari penyediaan akomodasi dan makan-minum yang melonjak 11,48 persen pada 2025. Pertumbuhan sektor ini bahkan konsisten dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tumbuh 15,59 persen, 2024 sebesar 10,93 persen, dan kembali menguat 11,48 persen pada 2025.
Pergeseran ke Sektor Jasa
Menurut Rahmad, lonjakan tersebut tak lepas dari dominasi konsumsi rumah tangga dalam struktur ekonomi Wonogiri. Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) menyumbang 70,42 persen terhadap total PDRB dan tumbuh 4,61 persen pada 2025.
“Ketika konsumsi rumah tangga kuat, sektor jasa seperti makan dan minum otomatis ikut terdorong,” ujarnya. Data inflasi juga memperlihatkan tingginya aktivitas di sektor ini. Komoditas seperti bakso siap santap, nasi dengan lauk, hingga ayam goreng menjadi penyumbang inflasi dominan sepanjang 2025.
Hal itu menunjukkan frekuensi transaksi di sektor makanan cukup tinggi. Selain itu, peningkatan pendapatan per kapita mendorong masyarakat lebih leluasa membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sekunder, termasuk makan di luar rumah dan aktivitas jasa lainnya.
Meski sektor makan-minum tumbuh paling cepat, sumber pertumbuhan terbesar tetap berasal dari pertanian yang menyumbang 1,55 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi 5,67 persen. Disusul perdagangan 0,93 persen dan industri pengolahan 0,91 persen.
Di luar itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,42 persen serta jasa lainnya 7,53 persen. Ini menandakan pergeseran perlahan dari sektor tradisional ke sektor jasa.
Sepanjang 2025, inflasi Wonogiri sempat mengalami deflasi -0,48 persen pada Februari. Namun secara bertahap meningkat hingga 2,52 persen pada Desember. Kenaikan ini masih dalam rentang terkendali.
Rahmad menilai kombinasi antara kuatnya konsumsi rumah tangga, stabilnya sektor pertanian, dan tumbuhnya sektor jasa menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Wonogiri. “Strukturnya memang masih didominasi pertanian, tetapi sektor jasa khususnya akomodasi dan makan-minum kini menjadi motor baru pertumbuhan,” ungkapnya.
Leave a Reply