Kabar Duka, Mbah Brambang Pelestari Wayang Kertas Sukoharjo Meninggal Dunia

Kabar Duka, Mbah Brambang Pelestari Wayang Kertas Sukoharjo Meninggal Dunia
Prosesi pemakaman perajin sekaligus pelestari wayang kertas, Wagiyo Merto Wirejo di rumah duka di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (12/5/2026). (Istimewa/Pemdes Wirun)

Nusatime.com, SUKOHARJO – Perajin sekaligus pelestari wayang kertas asal Mojolaban, Sukoharjo, Wagiyo Merto Wirejo yang akrab disapa Mbah Brambang, meninggal dunia di usia 95 tahun di RSI Kustati, Solo Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 04.30 WIB.

Mbah Brambang dikenal sebagai sosok pelestari seni tradisi wayang berbahan kertas wondertex. Berdasarkan surat lelayu yang diterima Espos, Selasa, Mbah Brambang meninggal dunia di RSI Kustati, Solo, pada pukul 04.30 WIB.

Jenazah kemudian dibawa oleh keluarganya di rumah duka di RT 002/RW 014, Dusun Godegan, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban. Rencananya, jenazah dimakamkan di permakaman umum pukul 11. 00 WIB di Dusun Kebak, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban.

Kepala Desa Wirun, Erry Suseo Wibowo, mengatakan Mbah Brambang meninggal dunia di rumah sakit pada Selasa subuh. “Beliau sudah sepuh. Usianya 95 tahun. Sempat dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Tadi subuh meninggal dunia,” kata dia kepada Espos, Selasa.

Semasa hidup, Mbah Brambang mendedikasikan separuh hidupnya untuk melestarikan seni tradisi berupa wayang kertas. Dia membuat wayang berbahas kertas wondertex sejak 1965 hingga sekarang. Artinya, Mbah Brambang menggeluti produksi wayang kertas sekitar 61 tahun.

“Saat masih muda, Mbah Brambang memproduksi wayang kertas di depan Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Setelah bertambah usia, beliau membikin wayang kertas di rumah dibantu keluarganya,” ujar dia.

Lebih jauh, Erry menambahkan usia tak menghalangi semangat dan kecintaan Mbah Brambang dalam memproduksi wayang kertas. Mbah Brambang terus memproduksi wayang kertas di usia lebih dari 90 tahun.

“Hasil karya wayang kertas terbatas. Ini keunikannya karena perajin wayang kertas bisa dihitung jari. Berbeda dibanding perajin wayang kulit. Ini bukti kecintaan dan ketulusan Mbah Brambang terhadap budaya Indonesia,” urai Erry. 

Sejumlah tokoh nasional, pejabat, hingga penggerak UMKM kerap mengunjungi rumah Mbah Brambang. Mereka ingin melihat secara langsung proses pembuatan wayang kertas mulai dari proses tatah atau pemotongan kertas wondertex hingga proses mewarnai.

“Saya mewakili keluarga besar pemerintah desa dan warga Wirun turut mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Kami kehilangan sosok pelestari wayang kertas di Indonesia,” tandas dia.

Leave a Reply