Hasil Penelitian: 30,9% Pelajar di Solo Obesitas, Mager Jadi Salah Satu Faktor

Hasil Penelitian: 30,9% Pelajar di Solo Obesitas, Mager Jadi Salah Satu Faktor
Media Briefing oleh Yayasan Gita Pertiwi di Hotel Zest Parang Raja, Manahan, Solo, Kamis (20/8/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Nusatime.com, SOLO — Sebanyak 30,9% siswa tingkat SD dan SMP di Kota Solo terindikasi mengalami kondisi gemuk atau obesitas. Angka obesitas tersebut didapat dari penelitian dan survei yang dilakukan Yayasan Gita Pertiwi pada 2025-2026.

Direktur Program Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan angka tersebut merupakan hasil riset yang melibatkan 11 sekolah jenjang SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, di wilayah Kota Solo. Ia mengatakan terdapat sekitar 330 siswa yang menjadi responden.

“Metodenya, kami melakukan pengukuran tinggi dan berat badan anak-anak yang sama secara berkala, bekerja sama dengan mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi. Dari analisis data tersebut, ketemulah angka 30,9 persen siswa mengalami gemuk atau obesitas,” urai Titik saat acara Media Briefing di Solo, Kamis (20/8/2026).

Ia memaparkan Gita Pertiwi juga menggunakan metode kuesioner dan wawancara pada 2026 guna melacak pola konsumsi siswa selama 24 jam penuh.

“Kami tidak bisa hanya melihat apa yang tersedia di sekolah. Kami ingin mengetahui pola konsumsi mereka dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Ternyata, untuk memantau ini cukup sulit karena harus melibatkan dan mendapat izin dari orang tua,” jelasnya.

Titik menyimpulkan obesitas pada anak tidak semata-mata disebabkan jajanan tinggi gula, garam, dan lemak di kantin sekolah. Namun, pola konsumsi di rumah yang kemungkinan tidak mengandung gizi seimbang turut jadi penyebab.

Meski begitu, ia mendorong sekolah menyediakan makanan sehat di kantin dan mengajarkan siswa tentang gizi yang seimbang. Sebab, menurutnya, sekolah menjadi pintu masuk yang sangat efektif untuk mengubah perilaku anak.

“Ketika kantin menyediakan pangan sehat, anak-anak mulai terbawa kebiasaan itu ke keluarga. Jadi kalau bicara soal kantin sehat bukan sekadar makanan di piring, tetapi mengubah paradigma dan perilaku anak,” tegas Titik.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi (Kasi) Manajemen dan Peningkatan Mutu Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Dimas Teguh Saputra, sepakat obesitas tidak bisa hanya disalahkan pada ketersediaan makanan di kantin.

Gaya Hidup Mager

Dimas, yang juga tergabung dalam Tim Penilai Stratifikasi Kantin Sekolah Sehat Ramah Anak Kota Solo ini, justru menyoroti gaya hidup minim gerak (mager) dari anak. Menurutnya, minim olahraga juga bisa menjadi faktor.

“Beberapa kali kami ke sekolah mewawancarai anak-anak, ternyata obesitas itu tidak semuanya karena makan banyak atau asupan tinggi gula dan lemak. Kadang mereka itu mager, malas gerak. Tidak pernah olahraga di rumah, olahraganya ya hanya pas di sekolah saja,” katanya.

Oleh karena itu, Dimas menyebut terus menyosialisasikan “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang di dalamnya mencakup asupan makan bergizi dan olahraga teratur sejak pagi.

Selain itu, ia mengatakan Gita Pertiwi bekerja sama dengan seluruh puskesmas di Kota Solo untuk rutin mengecek kesehatan, mulai dari pengukuran indeks massa tubuh, tinggi, hingga berat badan para siswa. “Pengecekan rutin ini diharapkan bisa mendeteksi dini kelainan pertumbuhan anak,” katanya.

Lebih lanjut, Dimas memaparkan Disdik Kota Solo saat ini mulai menggencarkan program parenting atau edukasi pola asuh. Melalui program tersebut, sekolah wajib melibatkan orang tua dalam pendidikan gizi dan gaya hidup anak.

Menurut Dimas, edukasi gizi dan gaya hidup sehat di sekolah tidak akan berarti jika orang tua di rumah tidak memiliki kesadaran yang sama. “Ketika di sekolah edukasinya sudah sehat, tetapi saat pulang anak diajak orang tua makan tidak sehat. Maka dari itu, edukasi ke orang tua tentang gizi seimbang juga penting,” katanya.

Leave a Reply