Jelang Iduladha, Penjual Rempah Magetan Tergerus Bumbu Instan

Jelang Iduladha, Penjual Rempah Magetan Tergerus Bumbu Instan
Salah pedagang rempah-rempah di Pasar Sayur Magetan saat menjaga lapak sekaligus menganyam Bambu, Selasa (26/5/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, MAGETAN — Menjelang Iduladha, aroma jahe, kunyit, dan lengkuas masih tercium di sudut Pasar Sayur Magetan, Jawa Timur, Selasa (26/5/2026). Namun, suasana pasar tak lagi seramai dulu. Pembeli rempah tradisional kini semakin berkurang seiring masyarakat beralih ke bumbu instan.

Lorong pasar yang biasanya dipenuhi warga untuk membeli bumbu gulai, rawon, hingga opor tampak lebih lengang pada 2026 ini. Para pedagang pun mulai merasakan perubahan besar dalam kebiasaan memasak masyarakat.

Di salah satu sudut pasar, Siti duduk di depan lapak kecil berisi aneka rempah seperti jahe, kunyit, kencur, dan lengkuas yang ditata rapi di atas tampah bambu. Sesekali ia memanggil pembeli yang melintas, tetapi hanya sedikit yang berhenti.

Perempuan berusia lebih dari 50 tahun itu mengaku suasana menjelang Iduladha tahun ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih bumbu siap pakai yang dianggap praktis dan cepat digunakan.

“Sekarang orang maunya praktis. Tinggal sobek bumbu instan, langsung masak,” ujarnya, Selasa.

Di bawah meja lapaknya, tersimpan karung kecil berisi jahe dan lengkuas yang belum banyak berkurang sejak pagi. Siti mengenang, dulu satu karung penuh rempah bisa habis dalam sehari menjelang hari raya kurban. Kini, stok lima kilogram saja kadang belum habis dalam sepekan.

Nyambi Anyam Bambu demi Bertahan

Siti mengatakan perubahan mulai terasa sejak sekitar 2017 ketika bumbu instan makin mudah ditemukan di pasar tradisional, minimarket, hingga toko online.

Perubahan pola konsumsi itu perlahan menggerus penghasilan pedagang rempah tradisional. Agar kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi, Siti kini harus mencari penghasilan tambahan dengan menganyam bambu sepulang dari pasar.

“Kalau cuma mengandalkan jualan bumbu sekarang susah. Rumah saya Poncol, penghasilan sehari-hari kalau dibuat operasional tentu tidak cukup. Akhirnya saya sambi anyam bambu,” tuturnya.

Ia membuat berbagai kerajinan seperti caping, tas bambu, hingga besek untuk dijual kembali.

Keluhan serupa juga dirasakan pedagang lain, Sunarni. Ia menilai daya beli masyarakat ikut menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dulu pembeli bisa membawa pulang aneka rempah hingga Rp10.000, kini kebanyakan hanya membeli campuran jahe, kunyit, dan kencur seharga Rp3.000.

“Sekarang belinya sedikit-sedikit. Sudah jarang banget yang beli banyak, bahkan hampir tidak pernah sejak beberapa tahun belakangan,” katanya.

Bagi para pedagang, kehadiran bumbu instan memang memudahkan masyarakat. Namun di balik kepraktisan itu, denyut perdagangan rempah tradisional di pasar rakyat perlahan mulai memudar.

Leave a Reply