Kampung Madinah Temboro Magetan, Surga Takjil Timur Tengah Saat Ramadan

Kampung Madinah Temboro Magetan, Surga Takjil Timur Tengah Saat Ramadan
Deretan pedagang takjil di ruas jalan komplek Pondok Pesantren Al-Fattah Temboro, Kabupaten Magetan, Jumat (27/2/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, MAGETAN — Sore belum sepenuhnya turun ketika langkah-langkah warga mulai memadati Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jumat (27/2/2026). Jalanan kampung yang berada di sekitar Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro itu berubah menjadi ruang temu para pemburu takjil, keluarga yang ngabuburit, hingga santri yang bersiap menyambut waktu berbuka puasa.

Kawasan ini dikenal luas sebagai Kampung Madinah, julukan yang lahir dari atmosfer Timur Tengah yang begitu terasa di setiap sudut desa. Gamis, jubah, dan cadar menjadi pemandangan sehari-hari, sementara papan toko dan spanduk beraksara Arab memperkuat identitas kawasan tersebut.

Menjelang magrib, denyut Kampung Madinah semakin hidup. Deretan lapak kaki lima membentang di sepanjang jalan, menawarkan aneka hidangan khas Timur Tengah. Aroma rempah nasi kebuli, roti maryam yang baru diangkat dari wajan, hingga samosa yang digoreng renyah berpadu dengan wangi kurma yang tertata di etalase pedagang.

Salah seorang pembeli, Nawal Fauziyah, 28, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk merasakan suasana ngabuburit yang berbeda. Warga Kecamatan Kartoharjo itu tampak antusias menyusuri satu per satu lapak takjil yang berjejer.

“Kalau ke sini rasanya seperti di luar negeri. Makanannya khas Timur Tengah dan suasananya lebih religius. Anak-anak juga senang karena bisa lihat langsung kehidupan santri,” ujarnya kepada Espos, Jumat.

Atmosfer Religius dan Kuliner Berpadu

Bagi pengunjung, daya tarik Kampung Madinah bukan hanya ragam kulinernya, tetapi juga pengalaman spiritual yang menyertainya. Di sela berburu menu berbuka, sebagian warga memilih menunggu azan dengan mengikuti kajian singkat atau membaca Al-Qur’an di masjid sekitar pesantren. Lantunan ayat suci dari pengeras suara menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Meski menu yang ditawarkan tergolong spesifik dan jarang ditemui di kawasan lain, harga takjil tetap ramah di kantong. Nawal menyebut satu porsi roti maryam dan nasi kebuli cukup untuk menu berbuka bersama keluarga kecilnya.

“Tidak terlalu mahal, masih ramah di kantong. Saya beli roti maryam dan nasi kebuli untuk berbuka,” ungkapnya.

Ketika azan magrib berkumandang, ritme Kampung Madinah berubah seketika. Para pedagang menutup lapak sementara, bergegas menuju masjid untuk berbuka bersama dan menunaikan salat berjemaah. Momen kebersamaan itu menjadi gambaran kuat kehidupan sosial di kawasan Temboro selama Ramadan.

Bagi para pedagang, keramaian tersebut membawa berkah tersendiri. Mahmoud Abdillah, penjual nasi kebuli, mengaku penjualannya meningkat signifikan setiap Ramadan. Pada hari biasa ia meraih omzet sekitar Rp500.000, sedangkan selama Ramadan pendapatannya bisa mencapai Rp1,5 juta per hari.

“Alhamdulillah, barokah bulan ramadan selalu terasa bagi semua orang. Pedagang-pedagang di sini banyak yang sampai kewalahan melayani pembeli, semoga cuaca juga mendukung,” ungkapnya.

Leave a Reply