Jokowi Ingatkan Revolusi AI 5 Tahun Lagi, Dunia Bakal Berubah

Jokowi Ingatkan Revolusi AI 5 Tahun Lagi, Dunia Bakal Berubah
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat diwawancara wartawan, Jumat (30/1/2026). (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), memperingatkan dunia akan memasuki revolusi besar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam lima hingga 15 tahun ke depan. Ia menilai perubahan tersebut akan mengubah hampir seluruh aktivitas manusia sehingga setiap negara harus segera bersiap.

Hal itu disampaikan Jokowi saat diwawancarai wartawan terkait kehadirannya dalam Bloomberg New Economy Forum 2026 di New Delhi, India, baru-baru ini. Menurut dia, seluruh negara harus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan AI yang kian pesat.

“Perkiraan saya 5-15 tahun yang akan datang akan ada revolusi besar AI. Semua aktivitas manusia tidak akan lepas dari yang namanya AI. Semua, di mana-mana, semua AI. Jadi semua negara harus mempersiapkan, kita juga harus mempersiapkan diri,” ungkap dia.

Jokowi menjelaskan hal yang perlu dipersiapkan mencakup infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta regulasi. Ia menilai dunia tengah mengalami pergeseran dari ekonomi konvensional menuju ekonomi digital dan selanjutnya ke ekonomi berbasis kecerdasan.

“Memang harus siap betul, karena ini akan ada sebuah pergeseran dari dulu yang ekonomi normal, masuk ke digital ekonomi. Ini masuk ke ekonomi AI atau intelligence economy,” tutur dia.

Kedaulatan Data Jadi Fokus Negara Berkembang

Menurut Jokowi, dalam forum tersebut hampir semua negara membahas isu kedaulatan data dan kedaulatan AI. Ia menegaskan pentingnya kedaulatan data, khususnya bagi negara berkembang.

“Hampir semua negara berbicara mengenai kedaulatan data dan kedaulatan AI. Saya sampaikan di sana bahwa kedaulatan data itu mutlak dan sangat perlu bagi semua negara utamanya negara-negara berkembang,” urai dia.

Jokowi menilai mewujudkan kedaulatan AI merupakan hal yang sulit, bahkan bagi negara besar seperti Amerika Serikat. Hal itu karena sejumlah komponen penting seperti chip dan semikonduktor masih bergantung pada impor dari negara lain.

“Untuk kedaulatan AI saya kira itu sebuah hal yang sangat sulit ya. Untuk negara besar saja akan sangat sulit. Amerika ingin kedaulatan AI seperti apa wong chip, semikonduktor masih impor dari negara lain. Lalu yang internasional talent-nya juga masih banyak yang dari India, apalagi negara-negara berkembang,” terang dia.

Meski demikian, Jokowi menegaskan kedaulatan data menjadi aspek paling penting dan realistis untuk diwujudkan. Ia mendorong negara berkembang memperkuat infrastruktur digital sebagai fondasi menghadapi era AI, mulai satelit, pusat data, jaringan fiber optik, hingga menara BTS.

“Saya kira yang paling penting adalah kedaulatan data. Lalu untuk negara-negara berkembang memang perlu mempersiapkan infrastruktur digital, baik itu satelit, data senter, fiber optic, menara BTS yang semuanya akan memberikan dukungan,” tegas dia.

Leave a Reply