Nusatime.com, WONOGIRI — Petani di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, menyiasati musim kemarau ekstrem dengan menanam tembakau pada lahan tadah hujan mereka. Langkah tersebut diambil sebagai alternatif agar lahan pertanian tetap produktif sekaligus mendatangkan keuntungan ekonomi yang tinggi di tengah keterbatasan air.
Salah seorang petani tembakau di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Joko Rusdiyanto, mengaku sengaja beralih menanam tembakau sejak dua tahun terakhir setiap memasuki musim kemarau. Langkah ini dinilai lebih menguntungkan ketimbang membiarkan lahan sawah dalam kondisi bera atau tidak ditanami.
Saat musim hujan Joko biasanya menanam melon, semangka, dan cabai. Namun, tanaman hortikultura tidak memungkinkan ditanam saat kemarau seperti sekarang karena minimnya air. “Tembakau menjadi alternatif terbaik agar lahan tetap produktif dan mendatangkan cuan,” ujar Joko saat ditemui Espos di kebunnya, Senin (13/7/2026).
Joko memaparkan saat ini dia menanam sekitar 4.000 batang tembakau di lahan seluas 2.000 meter persegi. Dari kapasitas tersebut, hasil panen tembakau kering diprediksi minimal mencapai empat kuintal.
Dengan harga jual di kisaran Rp30.000/kg hingga Rp60.000/kg tergantung kualitas (grade), dia memperkirakan bisa mengantongi omzet minimal Rp12 juta. Nilai tersebut terhitung menguntungkan mengingat biaya produksi selama tiga bulan masa tanam hanya sekitar Rp5 juta.
Di memprediksi hasil panen tahun ini akan lebih baik dibandingkan kemarau basah tahun lalu. Fenomena El Nino yang membuat kemarau tahun ini lebih kering justru menguntungkan bagi komoditas tembakau yang karakteristiknya hanya membutuhkan sedikit air.
Untuk urusan pasar, Joko mengaku seluruh hasil panennya langsung diserap oleh perusahaan mitra di Kabupaten Klaten. Sementara itu, Kepala Bidang Produksi dan Penyuluhan Dinas Pertanian (Dispertan) Wonogiri, Shidiq Purwanto, menyampaikan komoditas tembakau memang mulai banyak dibudidayakan petani di Selogiri dalam beberapa tahun terakhir.
Luasan lahan pertanian yang ditanami tembakau di Kecamatan Selogiri paling tidak seluas lima hektare. “Kecamatan Selogiri sangat memungkinkan untuk ditanami tembakau, terlebih karena banyak lahan sawah tadah hujan di sana. Hanya saja, pola perawatannya memang harus lebih rutin dibandingkan dengan tanaman padi,” jelas Shidiq.
Berdasarkan data Dispertan Wonogiri, produksi tembakau di Kabupaten Wonogiri sejauh ini masih didominasi oleh wilayah selatan seperti Kecamatan Eromoko, Wuryantoro, dan Giriwoyo. Geliat produksi komoditas ini juga berkontribusi terhadap Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima pemerintah daerah, di mana pada tahun anggaran 2026 ini Wonogiri menerima alokasi sebesar Rp19,9 miliar.

Leave a Reply