Menakar Ulang Spirit Pesantren di Kampus: Jalan Tengah bagi UIN Saizu Purwokerto

Menakar Ulang Spirit Pesantren di Kampus: Jalan Tengah bagi UIN Saizu Purwokerto
Dekan Fakultas Saintek UIN Saizu Purwokerto Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum. (Istimewa)

Perdebatan mengenai kewajiban mondok bagi mahasiswa UIN Saizu Purwokerto bukan sekadar soal kebijakan administratif, melainkan menyentuh dimensi yang lebih dalam: identitas keilmuan, budaya akademik, dan arah pembentukan karakter generasi Muslim terdidik.

Dalam konteks Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), keberadaan pesantren baik dalam bentuk Ma’had Al-Jami’ah maupun pesantren mitra bukan hanya pelengkap, tetapi bagian inheren dari ekosistem pendidikan itu sendiri.

Dalam tradisi Islam Nusantara, pesantren memiliki posisi strategis sebagai pusat transmisi ilmu, pembentukan adab, dan internalisasi nilai-nilai keagamaan. Jika kampus merepresentasikan rasionalitas akademik, maka pesantren menghadirkan dimensi etik dan spiritual yang menyeimbangkannya.

Di sinilah letak pentingnya mempertahankan “ruh pesantren” dalam lingkungan kampus, termasuk di UIN Saizu Purwokerto. Penghapusan kewajiban mondok memang dapat dipahami sebagai respons terhadap dinamika minat calon mahasiswa.

Namun, jika tidak diimbangi dengan model pembinaan alternatif yang kuat, maka akan terjadi kekosongan kultural yakni hilangnya ruang pembiasaan adab, disiplin ibadah, dan tradisi keilmuan khas pesantren. 

Kasus-kasus yang menunjukkan lemahnya pemahaman praktik ibadah di kalangan mahasiswa menjadi indikator bahwa pembelajaran formal di kelas belum cukup untuk menggantikan fungsi pembinaan intensif di pesantren.

Arah Baru Kebijakan dan Tantangan Implementasi

Kebijakan terbaru dari Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menekankan penguatan Ma’had Al-Jami’ah menunjukkan bahwa negara masih memandang pesantren sebagai pilar penting dalam pendidikan tinggi Islam.

Bahkan, gagasan eko-teologi yang diusung tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keseimbangan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial nilai yang selama ini hidup dalam tradisi pesantren.

Dalam konteks ini, penghapusan kewajiban mondok di satu sisi dan dorongan penguatan Ma’had di sisi lain menghadirkan paradoks kebijakan. Kampus dihadapkan pada dilema antara menjaga daya tarik institusional dan mempertahankan kualitas pembinaan keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif dan kontekstual.

Penguatan Kerjasama Pesantren: Jalan Tengah yang Strategis

Menjawab pertanyaan apakah penguatan kerjasama dengan pesantren mitra dapat menjadi solusi jawabannya adalah: ya, dan bahkan sangat potensial, jika dirancang secara sistematis.

Alih-alih menjadikan pesantren hanya sebagai “tempat mondok”, kemitraan dapat dikembangkan menjadi kolaborasi akademik-kultural. Misalnya, pesantren dapat dilibatkan dalam penyusunan kurikulum praktikum keagamaan, pelatihan adab dan kepemimpinan, hingga program pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Islam. 

Dengan demikian, mahasiswa tetap terhubung dengan tradisi pesantren tanpa harus terikat dalam skema mondok penuh selama satu tahun.

Model ini mencerminkan pendekatan integratif, di mana kampus dan pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi. Kampus menyediakan kerangka teoritis dan metodologis, sementara pesantren memberikan pengalaman praksis dan pembentukan karakter.

Fleksibilitas Tanpa Kehilangan Substansi

Selain penguatan kerja sama, fleksibilitas program juga menjadi kunci. Program mondok tidak harus bersifat seragam dan wajib penuh waktu. Bisa dikembangkan dalam bentuk modul-modul singkat, retreat keagamaan, atau pembinaan berkala yang terintegrasi dengan kalender akademik. Pendekatan ini lebih adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa masa kini, tanpa mengorbankan esensi pembinaan.

Lebih jauh, sosialisasi yang tepat juga diperlukan untuk mengubah persepsi calon mahasiswa. Mondok tidak seharusnya dipahami sebagai beban, tetapi sebagai investasi kultural dan spiritual yang justru menjadi nilai tambah lulusan PTKIN.

Di tengah persaingan antar perguruan tinggi, PTKIN seperti UIN Saizu Purwokerto memang dituntut untuk adaptif. Namun, adaptasi tidak boleh menghilangkan identitas. Justru keunikan integrasi antara kampus dan pesantren adalah keunggulan yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi umum.

Dengan demikian, penguatan kerjasama dengan pesantren mitra bukan hanya solusi teknis, tetapi juga langkah strategis untuk menjaga jati diri pendidikan Islam. 

Jalan tengah ini memungkinkan kampus tetap relevan secara sosial sekaligus kokoh secara nilai menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan beradab dalam kehidupan. 

Artikel ini ditulis oleh Dekan Fakultas Saintek UIN Saizu Purwokerto Prof. Dr. Kholid Mawardi, M. Hum.

Leave a Reply