Nusatime.com, PURWOKERTO-Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Workshop Gender Berbasis Proyek Kolaborasi bagi Mahasiswa pada Selasa (26/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Saizu ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas sejak pagi hingga sore hari.
Workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni Pangestika Rizki Utami selaku dosen dan anggota Satgas PPKS UIN Saizu, Mazaya Conita Widaputri selaku psikolog klinis, serta Dr. Tyas Retno Wulan, sosiolog dan dosen Universitas Jenderal Soedirman. Kegiatan turut dihadiri Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Saizu Prof. Ansori serta Ketua PSGA UIN Saizu Dr. Ida Novianti.
Dalam sambutannya, Prof. Ansori menegaskan pentingnya edukasi gender dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen kampanye dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.
“Secara tidak langsung kita bisa mencegah dan menjadi juru kampanye kekerasan seksual. Karena itu saya mengharapkan kegiatan ini dilakukan secara seksama dan ketika ada di antara kita di lapangan mendapatkan hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan seksual, kita punya wadah yaitu Pusat Studi Gender dan Anak dan di bawahnya ada Satgas PPKS,” ujarnya.
PSGA UIN Saizu sendiri merupakan lembaga di bawah LPPM yang berfokus pada pengarusutamaan gender, perlindungan anak, serta pencegahan kekerasan seksual. Lembaga ini dipimpin oleh Dr. Ida Novianti dan berperan dalam membangun lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan responsif gender.
Pada sesi pertama, Pangestika Rizki Utami membahas teori gender dan penerapannya dalam kehidupan sosial. Ia menjelaskan perbedaan antara seks yang bersifat biologis dan gender yang merupakan konstruksi sosial dan budaya.
Menurutnya, berbagai bentuk ketidakadilan gender masih sering ditemukan di masyarakat, mulai dari stereotip, diskriminasi sistemik, hingga kekerasan berbasis gender.
“Perempuan sering dianggap sebagai pihak yang bersalah dalam kasus kekerasan seksual. Ini merupakan bentuk stigma yang masih terjadi di masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung data Komnas Perempuan yang menunjukkan masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.
Materi kedua disampaikan oleh Mazaya Conita Widaputri yang membahas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kalangan mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa kekerasan seksual mencakup segala bentuk tindakan atau perilaku seksual yang tidak diinginkan korban, baik secara verbal maupun fisik.

Mazaya juga memaparkan konsep rape culture atau budaya pemerkosaan, yakni kondisi ketika tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual dianggap normal atau ditoleransi masyarakat.
“Pencegahan kekerasan seksual harus dilakukan bersama-sama oleh individu, keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, dan negara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penanganan korban kekerasan seksual tidak hanya sebatas pelaporan hukum, tetapi juga mencakup pemulihan psikologis dan sosial melalui konseling serta dukungan lingkungan sekitar.
Sementara itu, pada sesi terakhir, Dr. Tyas Retno Wulan memberikan pelatihan penulisan esai argumentatif kepada peserta. Materi tersebut meliputi penyusunan pendahuluan, penguatan argumen berbasis data dan riset, hingga penyusunan kesimpulan yang sistematis. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik menulis esai oleh para peserta workshop.
Melalui workshop ini, PSGA UIN Saizu berharap mahasiswa semakin memahami isu gender dan memiliki kesadaran kolektif untuk mencegah kekerasan seksual di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. (NA)

Leave a Reply