Nusatime.com, SEMARANG — Sorak gembira pecah di Puncak Bondolan Gunung Ungaran ketika puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kebonan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, berhasil menuntaskan pendakian mereka, Minggu (31/5/2026).
Rasa lelah yang sejak pagi mengiringi langkah kaki anak-anak itu seketika berubah menjadi kebanggaan. Di depan tugu bertuliskan “Puncak Bondolan 1.885 Mdpl Gunung Ungaran via Perantunan”, para siswa saling berebut tempat untuk mengabadikan momen lewat swafoto.
Senyum lebar mereka menjadi penanda keberhasilan menaklukkan jalur pendakian di usia yang masih belia. Bagi sebagian besar siswa, pengalaman itu menjadi kali pertama mendaki gunung.
Kepala MI Kebonan, Mutrofin, mengatakan perjalanan menuju Puncak Bondolan bukan tantangan yang mudah bagi siswa sekolah dasar. Mereka harus berjalan menanjak selama sekitar dua setengah jam sejak pukul 07.00 WIB sebelum akhirnya tiba di puncak pada pukul 09.30 WIB.
“Ada 29 siswa kami yang berhasil sampai puncak Bondolan. Tetapi ada empat siswa kami yang hanya mampu sampai pos 4, karena nggak kuat. Mereka langsung turun lagi,” ucap Mutrofin saat ditemui Espos di Puncak Bondolan, Minggu (31/5/2026).
Mutrofin terlihat beberapa kali membantu mengarahkan para siswa saat berfoto di depan tugu penanda puncak. Baginya, momen itu layak dikenang sebagai bukti perjuangan anak-anak menyelesaikan pendakian.
Namun, kegiatan tersebut bukan sekadar wisata alam atau agenda rekreasi sekolah. MI Kebonan menjadikan trekking Gunung Ungaran sebagai bagian dari Program Pembelajaran Luar Sekolah (PLS) yang rutin digelar setiap semester.
Khusus siswa kelas VI, kegiatan kali ini dikemas dalam bentuk berkemah sekaligus mendaki hingga Puncak Bondolan.
Di balik perjalanan menuju puncak, sekolah menyisipkan pelajaran yang lebih besar: menanamkan kecintaan terhadap alam sejak dini.
Belajar Menjaga Alam dari Jalur Pendakian
Bagi MI Kebonan, gunung bukan hanya ruang petualangan, tetapi juga ruang belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan.
Anak-anak diajak memahami bahwa menikmati alam harus diiringi kesadaran untuk menjaganya. Salah satu pesan yang terus diingatkan selama pendakian ialah pentingnya membawa turun kembali sampah yang dihasilkan.
“Kami ingin mengenalkan alam kepada anak-anak dan mengajarkan apa yang harus dijaga saat berada di alam. Misalnya, sejak di bawah sudah ada imbauan agar tidak lupa membawa turun sumpahmu. Pesannya itu berarti betapa pentingnya menjaga lingkungan dari sampah,” paparnya.
Menyadari pendakian gunung bukan aktivitas ringan, sekolah juga membekali siswa dengan persiapan fisik. Dua pekan sebelum keberangkatan, siswa telah diberi pemberitahuan agar mulai menjaga kondisi tubuh dan mempersiapkan stamina.
Sekolah pun tidak memaksa siswa yang tidak mendapat izin orang tua atau merasa belum mampu mengikuti pendakian.
Mutrofin berharap pengalaman belajar di alam terbuka itu dapat membentuk karakter siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan dan memiliki mental pantang menyerah.
“Yang berhasil sampai puncak mereka sangat gembira. Ini pertama kalinya siswa kami naik gunung. Dari bawah mereka sudah menargetkan bisa sampai puncak,” paparnya.
Tak hanya memberi arahan, Mutrofin juga memberikan contoh langsung kepada para siswa. Dalam perjalanan turun, ia beberapa kali terlihat memungut botol plastik dan bungkus makanan yang tercecer di jalur pendakian.
Menurut dia, persoalan sampah di jalur pendakian masih menjadi masalah yang sering ditemui meski imbauan menjaga kebersihan sudah banyak dipasang.
“Walaupun sudah ada imbauan untuk membawa turun sampah sendiri, masih banyak botol minuman dan bungkus makanan yang ditinggalkan di jalur pendakian,” tandasnya.

Leave a Reply