Pasar Gede Solo Satu-satunya Pasar Tradisional dengan Los Daging Babi

Pasar Gede Solo Satu-satunya Pasar Tradisional dengan Los Daging Babi
Pengunjung membeli daging di los daging babi, Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Senin (23/3/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Nusatime.com, SOLO — Pasar Gede Hardjonagoro menjadi satu-satunya pasar tradisional di Kota Solo yang menyediakan los khusus pedagang daging babi. Keberadaan komoditas tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat Pasar Gede dikenal sebagai pasar tradisional terlengkap di kota itu.

Los daging babi berada di sisi timur Pasar Gede, di antara los daging sapi dan los ikan laut. Urutan zona daging di kawasan tersebut dari arah selatan yakni los daging sapi, daging babi, ikan, dan daging ayam. Penataan tersebut dilengkapi papan keterangan yang memudahkan pengunjung.

Koordinator Komunitas Paguyuban Pasar Gede sekaligus Sekretaris Pasamuan Pasar Tradisional Kota Surakarta (Papatsuta), Wiharto, mengatakan Pasar Gede merupakan satu-satunya pasar tradisional di Solo yang memiliki los khusus pedagang daging babi.

“Di sini kan wilayah Pecinan. Kalau jualan daging babi di pasar lain mungkin tidak laku atau bahkan bisa diprotes,” kata Wiharto saat ditemui Espos di Pasar Gede, Senin (23/3/2026).

Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 40 pedagang daging di Pasar Gede Solo. Selain Pasar Gede, Pasar Kadipolo juga memiliki pedagang daging babi, namun hanya satu orang yang sebelumnya pindah dari Pasar Gede.

Ia menyebut harga daging babi saat ini bahkan bisa lebih mahal dibandingkan daging sapi karena tingginya permintaan, terutama dari daerah Jawa Timur dan Semarang yang memiliki beragam kuliner berbahan daging babi.

“Banyak yang berburu kuliner seperti babi kuah, babi kecap, siobak, hingga lapchiong,” ujarnya.

Wiharto menjelaskan pedagang daging babi di kawasan tersebut sudah ada sejak awal berdirinya Pasar Gede Hardjonagoro, bahkan kemungkinan telah ada sebelum bangunan pasar tersebut dibangun.

Di sekitar Pasar Gede juga terdapat kawasan yang dikenal dengan Kampung Mbaben, yang dahulu menjadi lokasi warga beternak babi di sekitar aliran sungai hingga wilayah Mojosongo. Kawasan tersebut juga pernah menjadi lokasi penyembelihan babi.

Menurut dia, jumlah pedagang daging babi biasanya meningkat menjelang perayaan Imlek. Para pedagang bahkan sudah mulai berjualan sejak pukul 04.00 WIB dengan penerangan sederhana seperti lampu petromaks sebelum listrik tersedia.

Penataan zona daging di Pasar Gede merupakan bagian dari konsep tata ruang yang dirancang arsitek Belanda Thomas Karsten. Ia menata setiap zona pasar secara efektif sehingga menjadi contoh modernisasi pasar tradisional pada masa itu.

Pasar Gede awalnya dibangun dengan satu bangunan di sisi timur Jalan Urip Sumoharjo. Sementara sisi barat dahulu berupa deretan ruko yang bagian atasnya digunakan sebagai perkantoran.

Seiring perkembangan waktu, pasar tersebut mengalami perluasan untuk menampung pedagang tambahan. Pedagang kemudian menempati kios di bangunan sisi barat, sementara pertokoan dipindahkan ke lokasi lain.

Saat ini Pasar Gede tidak hanya menjadi pusat perdagangan bahan makanan, tetapi juga berkembang menjadi kawasan wisata kuliner yang menawarkan beragam pilihan, mulai dari kuliner lokal, oriental, hingga western food.

Wiharto mengatakan transformasi tersebut terjadi secara alami seiring perkembangan tren kuliner dan munculnya kedai kopi yang semakin diminati generasi muda.

Simbol Harmoni Etnis

Sementara itu, Komunitas Solo Societeit melalui akun Instagramnya menjelaskan Pasar Gede merupakan simbol harmoni etnis di Kota Solo.

Pada awalnya aktivitas pasar berlangsung secara sederhana dengan pedagang menggunakan payung sebagai peneduh. Kemudian pada era kolonial Belanda, pasar dibangun dengan konsep dua bangunan terpisah dan menjadi pasar bertingkat pertama di Kota Solo.

Nama Hardjonagoro diambil dari seorang keturunan Tionghoa yang mendapatkan gelar KRT Hardjonagoro dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sementara sebutan Pasar Gede muncul karena arsitektur bangunan yang besar dan menyerupai benteng dengan pintu masuk megah serta atap yang lebar.

Pada masa kolonial, Pasar Gede menjadi pusat interaksi perdagangan antara masyarakat Belanda, Tionghoa, dan pribumi. Aktivitas ekonomi di pasar tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan antaretnis di Kota Solo.

Pasar Gede juga sempat dikenal sebagai “Pasar Priyayi” karena banyak menjual barang berkualitas dan menjadi tempat berbelanja kalangan bangsawan serta priyayi.

Bangunan pasar pernah direhabilitasi pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Renovasi tersebut memperkuat posisi Pasar Gede sebagai pusat perdagangan penting di wilayah Solo.

Namun pasar ini sempat mengalami kerusakan akibat peristiwa perang pada masa kolonial sehingga kembali direnovasi pada 1949. Kini bangunan Pasar Gede yang memiliki dua lantai dan tugu jam tersebut menjadi salah satu destinasi wisata ikonik di Kota Solo.

Leave a Reply