Nusatime.com, YERUSALEM – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (12/5/2026) menyatakan pembatasan serta tindakan koersif yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza semakin meningkatkan kebutuhan akan bantuan kemanusiaan, termasuk layanan psikososial.
United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs atau OCHA pada Sabtu (2/5/2026) melaporkan layanan dukungan psikologis telah menjangkau lebih dari 11.000 orang. Namun, kebutuhan di lapangan dinilai masih jauh lebih besar.
Mitra kemanusiaan OCHA di Gaza mencatat terdapat kenaikan sebesar 14 persen dalam sesi konseling jarak jauh antara Maret dan April 2026. Secara keseluruhan, lebih dari 9.600 sesi konseling tercatat sepanjang April lalu.
“Peningkatan ini sangat terlihat pada kasus-kasus yang melibatkan ide bunuh diri, yang meningkat sebesar 90 persen,” ungkap OCHA. “Ada juga peningkatan 46 persen dalam konseling terkait kekerasan fisik berbasis gender dan peningkatan 34 persen pada konseling kecemasan dan ketakutan.”
Organisasi tersebut juga memperkirakan sekitar 2,1 juta penduduk Gaza membutuhkan perlindungan dan dukungan psikososial, termasuk sekitar 1,1 juta anak-anak.
Kondisi tersebut menunjukkan mayoritas penduduk terdampak secara mental akibat kekerasan, kehilangan anggota keluarga, serta pengungsian berulang yang mereka alami selama konflik berlangsung.
United Nations Children’s Fund atau UNICEF menegaskan kebutuhan layanan kesehatan mental pada anak-anak kini berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Lebih dari satu juta anak di Gaza membutuhkan dukungan psikologis. Banyak di antara mereka hidup dalam kondisi pengungsian, kehilangan akses pendidikan, serta mengalami trauma akibat kekerasan.
UNICEF berupaya meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial anak-anak serta para pengasuh melalui pendekatan berlapis.
Dalam laporan yang dikeluarkan pada Jumat (8/5/2026), UNICEF menyebut program tersebut meliputi layanan keliling berbasis keluarga dan komunitas yang bertujuan membantu anak-anak mengatasi stres dan kecemasan, memperkuat interaksi sosial, serta mengembangkan keterampilan koping yang sehat.
Seiring dengan kembalinya anak-anak ke aktivitas pembelajaran, UNICEF juga memperluas program dukungan kesehatan mental berbasis bukti dalam kelompok kecil di pusat-pusat belajar.
Upaya tersebut bertujuan mempercepat proses pemulihan psikologis sekaligus mendukung pendidikan anak-anak di Gaza.
Melalui inisiatif itu, UNICEF telah menjangkau sekitar 35.707 anak serta 7.259 pengasuh guna memperkuat kesejahteraan psikososial mereka.
Kondisi kehidupan yang ekstrem, seperti pengungsian massal, kehancuran infrastruktur, serta keterbatasan akses terhadap air bersih dan layanan kesehatan, dinilai ikut memperparah tekanan psikologis masyarakat.
Konflik berkepanjangan juga disebut telah menghambat pembangunan di Gaza selama puluhan tahun dan memperdalam krisis kemanusiaan secara keseluruhan.
Dengan meningkatnya kebutuhan tersebut, PBB menekankan pentingnya dukungan internasional untuk memperluas layanan kesehatan mental di Gaza. Tanpa intervensi yang memadai, krisis tersebut dikhawatirkan berdampak jangka panjang terhadap satu generasi warga Palestina.

Leave a Reply