UNRWA: Anak-Anak Gaza Terancam Digigit Tikus di Kamp Pengungsian

UNRWA: Anak-Anak Gaza Terancam Digigit Tikus di Kamp Pengungsian
Tenda-tenda pengungsian di Kamp Nuseirat, Gaza, dipenuhi sampah dan limbah yang memicu munculnya tikus serta meningkatkan risiko penyakit bagi anak-anak dan warga terdampak konflik. (Istimewa/WAFA)

Nusatime.com, YERUSALEM – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan anak-anak di Jalur Gaza kini menghadapi ancaman serius setelah banyak dilaporkan digigit tikus saat tidur di tenda pengungsian.

Dalam pernyataannya di platform X, Kamis (8/5/2026), UNRWA menyebut tikus-tikus menyerang pada malam hari dan menggigit anak-anak yang tidur di dalam tenda pengungsian.

Kondisi tersebut terjadi di tengah memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza akibat rusaknya sistem sanitasi, terbatasnya air bersih, serta menumpuknya sampah dan limbah di sekitar kamp pengungsian.

Laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut lebih dari 80 persen dari sekitar 1.600 lokasi pengungsian melaporkan keberadaan tikus dan hama lain pada pertengahan April 2026.

UNRWA menilai situasi itu bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan mencerminkan semakin rapuhnya sistem kesehatan dan lingkungan hidup di Gaza.

“Di Gaza, penduduk yang sudah rentan menghadapi risiko penyakit yang jauh lebih tinggi karena pengungsian, tenda yang sesak, minimnya air bersih, dan sistem sanitasi yang rusak,” tulis UNRWA.

Rusaknya infrastruktur air bersih membuat limbah mengalir di area permukiman dan mencemari lingkungan. Kondisi tersebut menciptakan tempat ideal bagi berkembangnya tikus sekaligus meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lingkungan yang rusak dan padat penduduk menyebabkan lonjakan kasus infeksi, termasuk penyakit kulit, diare, serta infeksi yang berkaitan dengan hewan pengerat.

Dalam laporan kemanusiaan PBB juga disebutkan terdapat lebih dari 70.000 kasus infestasi parasit di wilayah pengungsian. Lonjakan kasus terjadi karena sebagian besar warga kini tinggal di kamp pengungsian darurat yang padat penduduk.

Di sisi lain, ketersediaan obat-obatan dan fasilitas kesehatan di Gaza semakin terbatas. WHO menyebut masuknya peralatan medis dan obat-obatan sangat terhambat sehingga tenaga kesehatan kesulitan mendeteksi dan menangani penyakit secara maksimal.

Sebanyak 1.800 fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami kerusakan total maupun sebagian, membuat sistem kesehatan Gaza berada di ambang kolaps.

Sejak konflik meningkat pada Oktober 2023 hingga Mei 2026, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 72.600 orang tewas dan sekitar 172.000 lainnya terluka. Mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak.

UNRWA memperingatkan tanpa akses terhadap air bersih, sanitasi, obat-obatan, serta pengendalian hama, warga Gaza terutama anak-anak akan menghadapi risiko wabah penyakit yang lebih luas dalam waktu dekat.
 
 
 

Leave a Reply