Personel Militer AS Kecewa Serangan ke Iran, Enggan Mati demi Israel

Personel Militer AS Kecewa Serangan ke Iran, Enggan Mati demi Israel
Ilustrasi kerja sama Amerika Serikat dan Israel. (Image by Freepik)

Nusatime.com, WASHINGTON DC — Sejumlah personel militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan kecewa terhadap kampanye serangan militer negaranya ke Iran. Mereka bahkan menyatakan tidak ingin mati demi kepentingan Israel.

Laporan tersebut diungkapkan situs berita HuffPost yang mengutip sejumlah sumber dari kalangan personel militer, pasukan cadangan AS, serta organisasi hak asasi manusia yang membela prajurit.

Dalam laporan itu disebutkan beberapa anggota militer yang terlibat konflik mengeluhkan kerentanan, tekanan psikologis, serta rasa frustrasi selama menjalankan operasi militer. Sebagian bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan karier di militer.

“Saya mendengar dari anggota militer mengatakan, ‘Kami tidak ingin mati untuk Israel—kami tidak ingin menjadi pion politik,’” kata seorang pasukan cadangan yang juga menjadi mentor prajurit muda, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Sumber lain dari kalangan pasukan cadangan juga menyampaikan adanya tren serupa di kalangan prajurit yang terlibat dalam konflik tersebut.

Laporan itu menyoroti bahwa ketidakpuasan di tubuh militer AS berkaitan dengan operasi Washington di Timur Tengah serta menurunnya moral para prajurit. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keberhasilan kampanye militer yang sedang berlangsung.

Beberapa anggota militer juga menilai kurangnya narasi yang jelas dan konsisten mengenai tujuan operasi militer menjadi salah satu faktor yang menurunkan moral pasukan.

Sebelumnya, CBS News melaporkan Pentagon telah menyiapkan rencana terperinci untuk kemungkinan pengerahan pasukan darat di Iran.

Langkah tersebut disiapkan untuk memberikan berbagai opsi militer kepada pemerintahan Presiden Donald Trump di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebagaimana diberitakan, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Sementara itu, Komite Independen Hak Asasi Manusia Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan keprihatinan terhadap dampak konflik tersebut, khususnya terkait potensi pelanggaran hukum humaniter internasional dan risiko terhadap keselamatan warga sipil.

Komite HAM OKI juga menekankan pentingnya penghentian serangan serta kepatuhan semua pihak terhadap hukum internasional guna menjaga stabilitas kawasan dan melindungi masyarakat sipil.
 

Leave a Reply