Ratusan Pemuda Klaten Ikuti Diskusi, Ketua Komisi Kejaksaan Soroti Budaya Kritik

Ratusan Pemuda Klaten Ikuti Diskusi, Ketua Komisi Kejaksaan Soroti Budaya Kritik
Ketua Komisi Kejaksaan RI, Pujiyono Suwadi saat memberikan pemaparan dalam Ngobrol Inspiratif di Pendopo Pemkab Klaten, Senin (8/6/2026). (Istimewa)

Nusatime.com, KLATEN — Seratusan pemuda dari berbagai organisasi di Klaten mengikuti diskusi bertajuk Anak Muda Bagian dari Solusi Negeri yang digelar di Pendopo Pemkab Klaten, Senin (8/6/2026).

Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari karang taruna, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), hingga organisasi kepemudaan lainnya di Klaten.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua Komisi Kejaksaan RI Prof. Pujiono Suwadi, pemerhati pembangunan Jawa Tengah Zulkifli, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Klaten M. Aria Rosyid, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Ketua Hipmi Klaten Fikky Arif Ardianta, serta perwakilan Bank Jateng Cabang Klaten Anggar Priambodo.

Diskusi yang digelar oleh Gerakan Solusi Indonesia (GSI) bekerja sama dengan Kejaksaan, Pemkab Klaten, dan Bank Jateng tersebut berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan yang didominasi seputar peran generasi muda dalam pembangunan.

Kritik Harus Diikuti Solusi

Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi Kejaksaan RI, Prof. Pujiono Suwadi, menyoroti fenomena media sosial yang menurutnya lebih banyak memberikan panggung kepada pihak yang mengkritik dibanding mereka yang menawarkan solusi.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi melahirkan budaya pesimisme dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap berbagai institusi publik.

“Kita lebih senang membaca soal ketidakpercayaan daripada prestasi. Orang yang mengkritik pemerintah sering kali lebih populer dibanding orang yang memberikan solusi,” kata Pujiono.

Meski demikian, Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) itu menegaskan kritik tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, generasi muda tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik karena kritik lahir dari kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

“Jiwa mengkritik tidak boleh hilang. Tetapi kritik tidak boleh berubah menjadi hujatan yang berlebihan. Setelah kritik harus ada tindak lanjut berupa solusi,” ujarnya.

Pujiono mengatakan bangsa yang maju dibangun oleh masyarakat yang mampu mengubah kegelisahan menjadi tindakan nyata. Karena itu, anak muda didorong tidak hanya menjadi pengamat persoalan, tetapi juga menjadi bagian dari penyelesaiannya.

Selain menyoroti budaya kritik di media sosial, Pujiono menegaskan pentingnya menempatkan hukum sebagai panglima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, berbagai penyimpangan, termasuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, muncul ketika kewenangan tidak dibatasi oleh hukum yang kuat.

Dia menilai terdapat optimisme dalam penegakan hukum saat ini yang ditandai dengan berbagai penindakan terhadap kasus-kasus yang menjadi perhatian publik. Namun, aparat penegak hukum tetap harus terbuka terhadap kritik dan pengawasan masyarakat.

Pemuda Diajak Melek Hukum

Sementara itu, Kajari Klaten M. Aria Rosyid mengajak generasi muda membangun budaya sadar hukum sejak dini melalui prinsip kenali hukum, jauhi hukuman.

Menurut Aria, pemahaman hukum menjadi bekal penting agar generasi muda tidak terjerumus dalam berbagai pelanggaran yang dapat merusak masa depan mereka. Ia juga menyoroti ancaman penyalahgunaan narkotika yang masih perlu diwaspadai di Klaten dan meminta para pemuda menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan tantangan lain yang dihadapi generasi muda saat ini adalah derasnya arus informasi yang kerap membuat mereka terjebak dalam hoaks maupun pandangan yang tidak utuh.

Menurut Hamenang, banyak anak muda akhirnya memiliki persepsi negatif terhadap pemerintah hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tanpa memahami persoalan secara menyeluruh.

Dia menegaskan semakin lebar jarak antara pemerintah dan generasi muda, semakin sulit pula suatu daerah berkembang.

“Jangan hanya menjadi objek. Anak muda harus menjadi subjek pembangunan dan ikut menentukan masa depan daerahnya,” kata Hamenang.

Leave a Reply