Nusatime.com, KLATEN — Warga Dukuh Kebonsari, Desa/Kecamatan Delanggu, bersama Sanggar Rojolele akan menggelar Kenduri Seni Tradisi Bakdo Kupat 2026 pada Kamis–Jumat (26–27/3/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi masyarakat yang mulai memudar sekaligus memperkuat identitas budaya agraria di wilayah Delanggu.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Espos, rangkaian kegiatan meliputi lokakarya pembuatan ketupat bersama sesepuh desa, adang kupat menggunakan sekitar 20 tungku, kirab ambengan kupat, kenduri Bakdo Kupat, hingga halalbihalal akbar warga Dukuh Kebonsari.
Acara tersebut juga akan dimeriahkan pameran foto serta panggung hiburan rakyat seperti pertunjukan wayang kulit dan orkes Melayu dangdut jadul.
Kenduri Bakdo Kupat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pra-Festival Mbok Sri 2026 yang digagas Sanggar Rojolele. Dalam kegiatan tersebut, warga akan memasak sekitar 1.500 ketupat secara massal sebagai simbol cethik geni atau pemantik semangat gotong royong yang menjadi ruh Festival Mbok Sri.
Pendiri Sanggar Rojolele sekaligus Direktur Festival Mbok Sri 2026, Eksan Hartanto, mengatakan tradisi Bakdo Kupat diharapkan dapat kembali menjadi ruang interaksi sosial, pewarisan nilai, sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat Delanggu.
“Bakdo Kupat diharapkan kembali menjadi ruang interaksi, pewarisan nilai, dan penguatan identitas budaya agraria masyarakat Delanggu,” kata Eksan, Selasa (24/3/2026).
Festival Mbok Sri sendiri merupakan perayaan budaya tani tahunan di Desa Delanggu. Tahun ini festival tersebut mengusung tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Ngupaya, Jejeg Urip” yang berarti teguh dalam berupaya dan tegak dalam menjalani kehidupan.
Rencananya Festival Mbok Sri 2026 akan digelar pada September mendatang. Kegiatan berbasis masyarakat tersebut juga mendapat dukungan dari program Dana Indonesiana 2025 yang diampu Kementerian Kebudayaan RI.

Leave a Reply