Nusatime.com, SOLO — Pelaksanaan pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB 2026 Kota Solo jalur Domisili dan Mutasi dibuka mulai Senin (29/6/2026) hingga Kamis (2/7/2026). Namun sistem dalam jaringan (daring) atau online ini masih menjadi kendala bagi sejumlah wali murid yang gagap teknologi (gaptek) untuk mendaftarkan anak atau cucunya.
Kesulitan ini sangat dirasakan oleh warga lanjut usia yang mendaftarkan cucunya ke sekolah. Salah satunya adalah warga asal Kelurahan Nusukan, Ari Pujiastuti, 68. Lantaran tidak terbiasa menggunakan Internet, ia memilih datang langsung ke SDN Cemara Dua untuk meminta bantuan.
“Saya tidak online sendiri, saya daftar langsung ke sini. Buat akun, verifikasi, sampai mendaftar dibantu di sini,” ujar Ari saat ditemui Espos di SDN Cemara Dua, Senin (29/6/2026).
Ari mengaku rela datang sejak pukul 08.30 WIB dan baru menyelesaikan seluruh tahapan pendaftaran pada pukul 10.00 WIB. Meski harus mengantre, ia merasa terbantu karena pelayanan dari panitia sekolah berjalan cepat dan ramah. Ia mengaku tidak masalah dengan sistem online asalkan dibantu panitia.
Terkait peluang cucunya, ia optimistis cucunya itu bisa diterima di SDN Cemara Dua, mengingat usia dan jarak rumahnya sudah memenuhi kriteria. Meski beigtu ia menyerahkan sepenuhnya pada sistem yang berlaku.
Kendala teknis akibat tidak akrab dengan sistem digital juga dialami oleh Indira Yanti, wali murid asal Kelurahan Punggawan, Banjarsari, Solo. Perempuan paruh baya itu menilai alur SPMB dengan banyaknya jalur pendaftaran cukup rumit bagi generasi tua. Untuk menyiasati hal tersebut, ia meminta bantuan anak sulungnya agar tidak terjadi kesalahan saat membuat akun.
“Saya enggak mudeng [paham]. Akhirnya saya harus minta tolong anak yang besar. Daripada dikerjakan sendiri tapi malah salah,” tuturnya saat melakukan verifikasi data di SMPN 10 Solo.
Fasilitas Pendampingan
Indira menceritakan sebelumnya ia sempat mencoba jalur prestasi namun gagal lantaran kalah saing dalam perolehan bobot poin piagam. Pada pendaftaran jalur domisili kali ini, meskipun jarak rumahnya paling dekat dengan sekolah tempat ia melakukan verifikasi, ia tetap akan memprioritaskan SMPN 1 Solo sebagai pilihan pertama.
Koordinator Operator SPMB SMPN 10 Solo, Sabto Wibowo mengaku kerap melayani orang tua, bahkan kakek dan nenek, yang datang langsung ke sekolah karena tidak bisa melakukan tahapan pendaftaran secara online mandiri di rumah.
“Artinya yang gaptek itu banyak sekali. Kadang ada [calon murid] yang diantarkan kakek atau neneknya ke sini, itu yang kami bantu,” jelas Sabto. Ia menjelaskan SMPN 10 Solo menyediakan fasilitas pendampingan mulai dari pembuatan akun hingga verifikasi berkas.
Namun, ia menegaskan jika wali murid meminta tolong operator sekolah hingga ke tahap pemilihan atau pendaftaran sekolah tujuan, maka harus dengan surat pernyataan. “Untuk pendaftaran sebenarnya kami menyarankan agar dilakukan sendiri. Tapi kalau memang minta dibantu didaftarkan dari sini [sekolah], kami siapkan surat pernyataan yang harus ditandatangani,” tegasnya.
Kebijakan pembuatan surat pernyataan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi. Pasalnya, penentu utama lolos tidaknya calon murid pada jalur domisili adalah sistem yang mengukur jarak lurus dari alamat Kartu Keluarga (KK) ke sekolah pilihan.
“Takutnya nanti kalau tidak diterima, kami yang disalahkan karena didaftarkan oleh SMPN 10. Jadi kami buat surat pernyataan bahwa mereka yang meminta bantuan pendaftaran,” katanya.

Leave a Reply