Diundang ke Solo, Bule Sampah Ajari Ibu-ibu PKK Bikin Eco-Enzyme di Manahan

Diundang ke Solo, Bule Sampah Ajari Ibu-ibu PKK Bikin Eco-Enzyme di Manahan
Pegiat lingkungan Bule Sampah atau Benedict Wermter (tengah) menyampaikan materi membuat eco-enzyme kepada pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Pendapa Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Kamis (6/8/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Nusatime.com, SOLO – Pegiat lingkungan yang terkenal dengan sapaan Bule Sampah, Benedict Wermter alias Ben, mengedukasi pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Solo membuat eco-enzyme di Pendapa Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Kamis (6/8/2026).

Benedict Wermter adalah seorang jurnalis investigatif dan peneliti lepas asal Jerman yang tinggal di Bali. Ia kini aktif menjalankan platform edukasi lingkungan @bule_sampah, yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai lingkungan dengan konten video yang mudah dipahami.

Bule Sampah mengedukasi ibu-ibu PKK Solo dengan cara yang seru. Mereka mendapatkan materi lalu praktik membuat eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik yang berfungsi sebagai pembersih alami maupun sebagai pupuk cair dan pestisida.

Para pengurus PKK dibagi dalam enam kelompok sesuai wilayah lima kecamatan dan satu kelompok pengurus PKK tingkat kota. Ben menantang perempuan membuat eco enzyme dengan cepat. Bagi kelompok yang paling cepat memproduksi eco-enzyme mendapatkan hadiah menarik. 

Bahan yang digunakan meliputi air, gula jawa, dan kulit buah. Komposisinya 10 liter air, satu kilogram gula jawa, dan tiga kilogram kulit buah-buahan. Bahan dicampur di dalam galon bekas.

Kemudian campuran bahan dalam galon disimpan untuk fermentasi sekitar tiga bulan. Penyimpanannya di tempat yang sejuk dan gelap. Setelah fermentasi selesai, eco-enzyme disaring sebelum digunakan sesuai kebutuhan.

Pilah Sampah

Sosialisasi pengurangan produksi sampah rumah tangga hingga pembuatan eco-enzyme merupakan program PKK Kota Solo. Acara itu turut dihadiri Wali Kota Solo Respati Ardi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo Herwin Tri Nugroho Adi, dan lima camat di Kota Solo.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Solo Venessa Winastesia menjelaskan PPK Solo mengundang Bule Sampah untuk menginspirasi perempuan untuk mengurangi volume sampah. Upaya itu dilakukan karena kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo sudah melebihi kapasitas.

“Kami mengundang Bule Sampah untuk memantapkan, menguatkan, dan memotivasi ibu-ibu untuk tetap semangat pilah sampah. Ibu-ibu kan sebagai fondasi keluarga, dia bisa menggerakkan keluarga, bisa nanti mengajak anak-anaknya dan kemudian bisa meng-influence ayahnya untuk nanti kita tetap menerapkan pilah sampah di rumah tangga,” kata dia.

Menurut dia, sebanyak 70% volume sampah di Kota Solo berasal dari rumah tangga. Gerakan pilah sampah dari rumah diharapkan mengurangi beban TPA Putri Cempo.

Sementara itu, Benedict menjelaskan persoalan sampah di Kota Solo yakni mengenai open dumping TPA Putri Cempo serta sampah yang mengalir di sungai sehingga mencemari lautan.

Pemkot Solo bersama UNDP Indonesia mulai bergerak mengatasi persoalan sampah di air dengan menjalankan program #SungaiLestari yang diwujudkan dengan menjaring sampah sungai, memilah, mengolah sampah, dan edukasi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Dia menjelaskan upaya menghentikan open dumping TPA Putri Cempo juga dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah dari sumbernya. “Kita harus mulai di seluruh rumah, kita sendiri harus mengurangi sampah dan memilah sampah untuk mendukung ekonomi sirkular di Surakarta,” ungkap dia.

Leave a Reply