UNS Kembangkan Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga di Sukoharjo

UNS Kembangkan Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga di Sukoharjo
Sejumlah warga foto bersama di depan insinerator pengolahan sampah terpadu di Dukuh Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, belum lama ini. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO – Tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) membuat insinerator pengolahan sampah terpadu di Dukuh Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Perwakilan Tim Pengembang yang juga dosen UNS, Ristu Saptono, mengatakan inovasi yang diberi nama Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga (Smartin-Aja) itu menjadi fasilitas pengolahan sampah yang berada di tengah permukiman warga.

Ia mengatakan tempat pengolahan sampah tersebut dirancang khusus untuk mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka yang selama ini menghasilkan polusi udara.

Sistem ini bekerja dengan mengarahkan gas hasil pembakaran ke unit wet scrubber. Air penangkap abu dan jelaga kemudian diproses melalui sedimentasi dan filtrasi sebelum digunakan kembali.

Ia mengatakan dalam uji coba yang berlangsung sejak 31 Juli hingga 14 Agustus 2026, sistem ini terbukti sukses menangkap asap dan jelaga secara signifikan.

“Pada pengujian tahap keempat, durasi pembakaran menjadi lebih singkat dengan kapasitas terukur sekitar 30 kilogram sampah basah per jam. Ke depan, target pengembangan sistem ini diarahkan untuk mencapai kapasitas optimal sekitar 50 kilogram per jam,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).

Ia menyebut tim juga telah mengganti kompor berbahan bakar oli dengan burner gas bertekanan tinggi yang dilengkapi blower agar suplai oksigen maksimal.

“Konfigurasi nosel semprot dan tekanan air pada wet scrubber juga disesuaikan untuk meningkatkan kemampuan menangkap jelaga,” katanya.

Ia menyebut pengembangan inovasi lintas bidang ini melibatkan keilmuan statistika, informatika, hingga seni rupa, serta dikelola langsung oleh warga setempat melalui Kelompok Masyarakat Dadi Berkah.

Dihias Mural

Fasilitas tersebut juga dihias mural agar lebih menarik. Fasad bangunan insinerator dipercantik dengan mural berukuran raksasa, yakni 7 x 5 meter, untuk meniadakan kesan kumuh.

Dosen Seni Rupa FSRD UNS, Sigit Purnomo Adi, menjelaskan karya lukis dinding tersebut dikerjakan secara bergotong royong bersama tim teknis dan pemuda Dukuh Kebakan.

Mural ini sengaja dilukis menggunakan cat khusus berbasis air yang ramah lingkungan dan tidak berbau menyengat. Menurut Sigit, mural tersebut sengaja dibuat untuk menggambarkan ilustrasi sejarah transformasi lingkungan desa setempat.

“Mural ini mengilustrasikan sejarah. Di sisi kiri, kami menggambarkan keadaan dulu yang penuh polusi, banyak sampah, dan bau menyengat karena dibakar langsung. Sedangkan di sisi kanan, dilambangkan keadaan yang sudah bersih karena budaya pembuangan sampah yang teratur menggunakan mesin pengolah dari UNS,” beber Sigit.

Sigit mengatakan tema mural tersebut juga berkaitan dengan momentum perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada Agustus.

“Yang paling penting dalam suasana kemerdekaan ini, mural tersebut juga menggambarkan kemerdekaan dari polusi udara, dari tumpukan sampah, dari bau yang menyengat, serta dari limbah-limbah kotor,” katanya.

Ia berharap kehadiran tempat pengolahan sampah tersebut tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih dan menekan dampak perubahan iklim, tetapi juga memupuk kolaborasi masyarakat.

Leave a Reply