Aksi Protes Kebijakan Trump “No Kings” Meledak di 50 Negara Bagian AS

Aksi Protes Kebijakan Trump “No Kings” Meledak di 50 Negara Bagian AS
Warga Amerika Serikat tumpah ruah ke jalanan untuk memprotes pemerintahan Presiden Donald Trump dalam demonstrasi bertajuk "No Kings". (ANTARA/Anadolu/nbl)

Nusatime.com, JAKARTA – Aksi demonstrasi besar-besaran yang diikuti jutaan orang berlangsung di Amerika Serikat. Aksi unjuk rasa ini berlangsung di 50 negara bagian AS dan 16 negara lainnya.

Dikutip dari Antara, aksi bertajuk “No Kings” (tidak ada raja) itu bertujuan untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Donald Trump. Bahkan demonstrasi ini disebut menjadi salah satu aksi protes terkoordinasi sepanjangan sejarah negara itu.

Pelaksana aksi, yang mencakup ormas anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, kemudian serikat pekerja, dan perkumpulan akar rumput lainnya, melaporkan lebih dari 3.000 aksi demonstrasi berlangsung di seantero AS.

Menurut laporan media setempat, protes “No Kings” sebelumnya pada Oktober 2025 diikuti 7 juta pengunjuk rasa di seluruh AS.

Demonstrasi tersebut dilangsungkan di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, bahkan ditambah dengan sejumlah pendukung garis kerasnya yang turut mengungkapkan rasa frustrasi.

Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran.

Menurut Washington Post, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian Minnesota untuk aksi utama protes “No Kings” yang disebut oleh pendiri ormas Indivisible Ezra Levin sebagai “protes terbesar dalam sejarah Minnesota”.

Sementara di Washington DC, belasan ibu dari Palestina melakukan unjuk rasa di depan tugu Lincoln Memorial dengan mengibarkan bendera Palestina raksasa, menurut The Guardian.

“Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan,” kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada, 43, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

“Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel,” ucap Barmada.

Sementara itu, CNN melaporkan adanya unjuk rasa tandingan di sejumlah titik, seperti di West Palm Beach, Florida, di mana sekitar 50 pendukung Trump dengan topi “Proud Boys” berhadapan dengan pengunjuk rasa “No Kings”.

Koalisi “No Kings” menekankan bahwa aksi unjuk rasa mereka adalah tanpa kekerasan, dengan semua bentuk senjata dilarang dan pemimpin aksi diberi latihan deeskalasi konflik.

Adapun pada unjuk rasa “No Kings” pertama pada Juni 2025, seorang pengunjuk rasa terbunuh dan seorang lainnya terluka oleh seorang relawan 50501 yang menembakkan senjatanya usai melihat seseorang membawa senjata api dalam unjuk rasa di Salt Lake City, Utah.

Leave a Reply