Artbition 2026, Siswa SDII Al Abidin Surakarta Presentasi dalam Bahasa Inggris

Artbition 2026, Siswa SDII Al Abidin Surakarta Presentasi dalam Bahasa Inggris
Dalam Artbition 2026 SD Islam International Al Abidin Surakarta sejumlah perwakilan siswa mempresentasikan karya mereka dalam Bahasa Inggris, sekaligus menjelaskan proses dan ide di balik karya tersebut. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO –  Belajar Bahasa Inggris tidak selalu harus dimulai dari buku dan latihan soal. Anak juga bisa belajar berkomunikasi ketika mereka menjelaskan sesuatu yang benar-benar mereka buat sendiri. Hal inilah yang terlihat dalam Artbition 2026 SD Islam International Al Abidin Surakarta. Sejumlah perwakilan siswa mempresentasikan karya mereka dalam Bahasa Inggris, sekaligus menjelaskan proses dan ide di balik karya tersebut.

Mengusung tema A Celebration of Creativity, Artbition 2026 digelar pada Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk berkarya, mencoba, memecahkan persoalan selama proses pembuatan, dan kemudian mengomunikasikan hasilnya kepada orang lain.

Presentasi karya menggunakan Bahasa Inggris menjadi salah satu bagian menarik dalam kegiatan tersebut. Perwakilan siswa dari setiap fase pembelajaran menjelaskan bahan yang digunakan, proses pembuatan, fungsi, serta gagasan yang melatarbelakangi karya mereka.

Dengan cara tersebut, siswa mendapatkan kesempatan menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks yang nyata. Mereka tidak hanya menghafalkan kosakata atau mempelajari struktur kalimat, tetapi menggunakan bahasa untuk menjelaskan sesuatu yang mereka pahami dan kerjakan sendiri. Pengalaman ini sekaligus melatih keberanian berbicara dan kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut.

Penggunaan Bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas pembelajaran tersebut sejalan dengan salah satu program unggulan SD Islam International Al Abidin Surakarta, yaitu Cambridge. Melalui program tersebut, sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris dan menggunakannya dalam proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan juga diarahkan agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.

Selain program Cambridge, SD Islam International Al Abidin Surakarta juga menawarkan pembiayaan pendidikan yang realistis bagi keluarga. Hal ini menjadi bagian dari upaya sekolah menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus tetap mempertimbangkan kemampuan pembiayaan orang tua.

Artbition 2026 dibuka oleh Kepala SD Islam International Al Abidin Surakarta, Sri Wachyuningsih. Ia mengajak seluruh siswa untuk menikmati sekaligus mengapresiasi beragam karya yang telah dihasilkan oleh masing-masing kelas.

Dalam sambutannya, Sri Wachyuningsih menekankan bahwa proses membuat karya bukan hanya tentang kreativitas. Ada kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, serta kemauan untuk menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas.

“Semoga semangat, jiwa kreatif, kesabaran, serta ketekunan yang ditunjukkan siswa dalam menyelesaikan karya seni ini juga dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mereka sehari-hari,” ujarnya.

Untuk memperkaya pengalaman siswa, sekolah menghadirkan Rosiena dari Sanggar Handycraft Nisrina. Siswa kelas 1 hingga kelas 4 mendapatkan wawasan dan demonstrasi mengenai berbagai karya seni secara langsung.

Sementara itu, siswa juga mendapatkan pengalaman mengenal rotan bersama tim dari Pratama Rotan Indonesia. Rotan diperkenalkan tidak hanya sebagai bahan kerajinan, tetapi juga dari sisi praktis, ekonomis, dan fungsional. Siswa kemudian diajak mempraktikkan pembuatan gantungan kunci dari rotan.

Siswa kelas 5 dan 6 juga bekerja dalam kelompok untuk membuat berbagai bentuk keranjang rotan. Dari kegiatan tersebut, siswa belajar mengenali karakter bahan sekaligus memahami bagaimana sebuah bahan dapat diolah menjadi produk yang memiliki bentuk dan fungsi.

Mamahami Proses di Balik Karya

Ketua Panitia Artbition, Arif Mashudi, mengatakan kehadiran para praktisi memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami proses di balik sebuah karya.

“Melalui kehadiran para praktisi, kami ingin siswa tidak hanya melihat hasil akhir sebuah karya, tetapi juga memahami proses dari sebuah bahan menjadi sebuah karya seni, karakter bahan, fungsi, hingga nilai yang dapat dihasilkan dari sebuah karya seni. Kesemuanya memberi ilmu dan pengetahuan baru yang penting untuk ananda,” kata Arif.

Proses berkarya dalam Artbition 2026 juga mengintegrasikan unsur STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Siswa diajak mengamati karakter bahan, merancang bentuk, melakukan pengukuran, menentukan teknik pembuatan, serta mencari solusi ketika menemukan kendala.

Berbagai karya yang ditampilkan memperlihatkan proses tersebut. Siswa membuat bunga dari kertas, maket rumah dari stik es krim, lampion, tempat tisu, figura, hingga gantungan menggunakan teknik quilling. Proses pembuatannya mendorong siswa untuk tidak hanya memikirkan tampilan karya, tetapi juga bagaimana bahan dapat disusun dan digunakan hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.

Kepedulian terhadap lingkungan juga masuk dalam proses berkarya. Siswa menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui pemanfaatan berbagai bahan yang dapat digunakan kembali.

Salah satu karya yang menarik adalah eco-brick, yaitu botol plastik yang diisi potongan-potongan plastik dengan teknik tertentu. Hasilnya kemudian dimanfaatkan menjadi plant holder hingga kursi. Kegiatan ini memberi pengalaman kepada siswa bahwa benda yang dianggap sebagai limbah dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki fungsi.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni dapat menjadi pengalaman belajar lintas bidang. Siswa mengamati bahan, merancang, mengukur, mencoba, menemukan kendala, mencari solusi, hingga mempresentasikan hasilnya. Pada tahap akhir, mereka juga belajar menyampaikan proses tersebut dalam Bahasa Inggris.

Selain berbagai karya siswa, Artbition 2026 menghadirkan seni tradisional Jawa melalui pertunjukan wayang kulit. Dalang Cilik Abraham tampil membawakan wayang kulit di hadapan para siswa.

Pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal kekayaan budaya lokal secara langsung. Di tengah pembelajaran yang mendorong kemampuan STEM dan komunikasi Bahasa Inggris, siswa tetap mendapatkan ruang untuk mengenal dan mengapresiasi seni tradisional.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi karya dari setiap fase pembelajaran. Fase A yang terdiri atas kelas 1 dan 2, Fase B kelas 3 dan 4, serta Fase C kelas 5 dan 6 mempresentasikan proses dan hasil karya yang telah mereka buat.

Siswa juga mengikuti kegiatan mewarnai media sepanjang sekitar tiga meter di setiap kelas. Kegiatan dilakukan secara bersama-sama sehingga siswa belajar berkomunikasi, berbagi tugas, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap hasil kelompok. Artbition 2026 ditutup dengan penampilan Tari Salman yang menambah kemeriahan sekaligus memperkuat nuansa seni dan budaya dalam kegiatan tersebut.

Melalui Artbition 2026, karya menjadi lebih dari sekadar hasil kreativitas siswa. Proses di baliknya memberi kesempatan untuk belajar menerapkan STEM, menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, memanfaatkan kembali bahan, serta mengenal budaya. Pengalaman tersebut membuat siswa tidak hanya menghasilkan sesuatu, tetapi juga memahami proses dan mampu menceritakan apa yang telah mereka kerjakan. (NA)

Leave a Reply