Workshop Bekali Guru TK Al Abidin Kiat Mengajar Bahasa Inggris Anak Usia Dini

Workshop Bekali Guru TK Al Abidin Kiat Mengajar Bahasa Inggris Anak Usia Dini
Para guru TK dari unit Al Abidin mengikuti Workshop English Literacy yang digelar di KB TKII Al Abidin Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026). (Istimewa)

Nusatime.com, JOGJA—Mengajarkan bahasa Inggris kepada anak usia dini membutuhkan cara yang berbeda. Anak lebih mudah memahami bahasa ketika pembelajaran dilakukan melalui kegiatan yang singkat, berulang, melibatkan gerakan, gambar, permainan, dan cerita.

Oleh sebab itu, guru perlu memiliki beragam strategi agar pembelajaran tetap menyenangkan sekaligus memiliki tujuan yang jelas. Hal tersebut menjadi fokus dalam Workshop English Literacy yang digelar di KB TKII Al Abidin Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh 125 guru TK dari unit Al Abidin di Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Salatiga, Magelang, dan Yogyakarta.

Workshop menghadirkan Brilliannisa Syahri Syahidna, S.S. dari Al Abidin Learning Center sebagai pemateri. Selama kegiatan, guru tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak mencoba berbagai aktivitas yang dapat diterapkan langsung dalam pembelajaran di kelas.

Materi workshop mencakup phonics, spelling bee, dan storytelling. Ketiganya menjadi bagian dari penguatan kemampuan English Literacy anak usia dini, dengan pendekatan yang menyesuaikan karakter belajar anak.

Pada sesi phonics, guru belajar mengenalkan bunyi secara bertahap sebelum mengarah pada kata. Peserta juga berlatih menghubungkan bunyi dengan huruf hingga mengenalkan blending. Agar kegiatan tidak terasa seperti latihan membaca yang formal, proses tersebut dikemas melalui aktivitas bermain seperti Sound Detective, Sound Jump, Feed the Monster, dan Sound Ball.

Bagi guru, berbagai permainan tersebut dapat menjadi pilihan kegiatan ketika ingin melatih kemampuan anak mengenali dan membedakan bunyi. Anak tetap bergerak dan bermain, sementara guru tetap dapat mengarahkan mereka pada target pembelajaran yang ingin dicapai.

Storytelling juga menjadi bagian yang menarik dalam workshop. Guru diajak melihat bagaimana sebuah cerita sederhana, seperti “Molly the Monkey”, dapat digunakan untuk mengenalkan vocabulary sekaligus melatih listening, movement, dan repetition. Dengan satu cerita, anak mendapatkan kesempatan untuk mendengar, menirukan, bergerak, dan mengulang bahasa secara alami.

Kesempatan untuk Mencoba Secara Mandiri

Selain aktivitas pembelajaran, guru juga berlatih menggunakan teacher talk yang sederhana, jelas, dan konsisten. Pendekatan “I do, We do, You do” diperkenalkan agar guru memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian mengajak anak berlatih bersama sebelum memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba secara mandiri.

Kegiatan kemudian berlanjut dalam breakout session dengan pilihan materi phonics, spelling bee, dan storytelling. Peserta mendapat kesempatan untuk mendalami materi sesuai aktivitas yang dipilih sekaligus mendiskusikan cara penerapannya di kelas.

Tidak berhenti pada diskusi, guru juga mengikuti microteaching session. Mereka mencoba mempraktikkan pembelajaran dalam waktu singkat, termasuk merancang aktivitas phonics selama 3–5 menit dengan menentukan satu target sound, memilih kata yang sudah familiar bagi anak, serta menambahkan gerakan atau permainan.

Praktik tersebut membantu guru melihat bahwa pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini tidak harus selalu berlangsung dalam kegiatan yang panjang. Aktivitas beberapa menit pun dapat bermakna ketika tujuan, instruksi, dan cara penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan anak.

Di akhir kegiatan, peserta melakukan refleksi dan menentukan strategi baru yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Dengan bekal tersebut, guru diharapkan dapat membawa lebih banyak variasi ke dalam kelas, sehingga anak memiliki pengalaman belajar bahasa Inggris yang lebih aktif, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. (NA)

Leave a Reply