Nusatime.com, MADIUN – Perbaikan permanen Bendung Kedungrejo di Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, yang jebol pada beberapa hari lalu membutuhkan dana sekitar Rp20 miliar.
Namun, sebelum perbaikan permanen, pemerintah akan melakukan penanganan darurat atau sementara terhadap kondisi tanggul Bendung Kedungrejo. Penanganan sementara ini ditarget bisa rampung dalam waktu dua pekan.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU), Diana Kusumastuti, mengatakan untuk penanganan awal, pemerintah bersama BBWS Bengawan Solo akan melakukan langkah darurat dengan membersihkan sedimentasi serta merobohkan bagian bangunan yang rusak agar aliran air sungai dapat diarahkan kembali.
“Penanganan darurat kita lakukan lebih dulu. Sedimentasi akan dibersihkan, kemudian bagian bangunan yang roboh akan kita hancurkan agar aliran sungai bisa diarahkan kembali. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua minggu,” ujar Diana saat meninjau bangunan Bendung Kedungrejo yang ambrol di Madiun, Rabu (1/4/2026).
Bendung Kedungrejo tersebut mengalami kerusakan parah setelah tanggul pengendali aliran air ambrol pada Jumat (27/3/2026) dan disusul dengan longsornya tebing di sekitar bendung pada Selasa (31/3/2026) dini hari.
Bendungan Dibangun 1936
Menurutnya, Bendung Kedungrejo merupakan bangunan lama yang dibangun sejak tahun 1936 dan baru sekali mengalami renovasi pada sekitar tahun 1970-an. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyebab bendung mengalami kerusakan.
“Setelah saya menerima informasi Bendung Kedungrejo jebol, saya langsung telepon Kepala BBWS Bengawan Solo untuk menanyakan kondisinya. Hari ini saya datang langsung untuk melihat kerusakan yang terjadi,” katanya yang dikutip dari Antara.
Ia menilai kerusakan bendung tersebut sangat berdampak karena selama ini Bendung Kedungrejo mengairi seluas 1.554 hektare lahan sawah di wilayah Kecamatan Pilangkenceng dan sekitarnya.
Setelah penanganan darurat, lanjutnya, pemerintah akan mengusulkan pembangunan kembali bendung secara permanen melalui skema Inpres Nomor 2 tahun 2025 terkait kebijakan percepatan pembangunan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan.
Dia menuturkan estimasi kebutuhan anggaran sementara untuk penanganan permanen diperkirakan mencapai sekitar Rp20 miliar, dengan perencanaan teknis detail (DED) disiapkan oleh pemerintah provinsi.
“Untuk pembangunan kembali, Kami berkolaborasi dengan provinsi dan kabupaten juga, agar air ini tetap terjaga sehingga tidak meluap kemana-mana dan bisa diarahkan untuk irigasi,” kata Diana.
Perbaikan Bendungan Sangat Mendesak
Wakil Bupati Madiun Purnomo Hadi mengapresiasi gerak cepat pemerintah pusat dalam menindaklanjuti kerusakan Bendung Kedungrejo. Pemerintah daerah segera melaporkan kejadian kerusakan tersebut kepada kementerian dan instansi terkait, karena fungsinya yang sangat krusial.
“Begitu kejadian jebol, Kami melalui dinas terkait langsung menyurati BBWS dan kementerian. Alhamdulillah responsnya sangat cepat. Dari tanggal 27 Maret, hari ini 1 April dilakukan peninjauan dengan Bu Wamen PU turun langsung ke lokasi,” kata Wabup Purnomo Hadi.
Ia mengatakan bahwa perbaikan Bendung Kedungrejo sangat mendesak karena memiliki peran penting dalam sistem irigasi yang mendukung sektor pertanian di Kabupaten Madiun.
“Yang paling penting fungsi bendung ini bisa segera dipakai kembali. Setelah itu baru dilakukan pembangunan permanen. Ini penting karena bendung ini menopang lebih dari 1.500 hektare sawah dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan,” kata Purnomo.
Dalam peninjauan ke Kabupaten Madiun tersebut, Wamen Diana didampingi Wakil Bupati Madiun serta jajaran Dinas PU Sumber Daya Air Jawa Timur dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.
Saat ini puluhan personel telah diturunkan ke lokasi bersama sejumlah peralatan dan material guna melakukan penanganan darurat tersebut.

Leave a Reply