Nusatime.com, SUKOHARJO — Suara azan berkumandang memanggil umat Islam untuk segera menunaikan salat di Masjid Al Barokah, Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Sabtu (14/3/2026). Tak berapa lama kemudian, beberapa laki-laki muncul dari gang-gang perkampungan.
Mereka memakai sarung dan berjalan kaki menuju masjid tersebut. Tampak depan, bangunan Masjid Al Barokah terlihat cukup modern dan megah. Serambi masjid cukup luas yang acapkali digunakan untuk beragam kegiatan keagamaan oleh umat muslim setempat.
Saat Bulan Puasa, Masjid Al Barokah menjadi pusat kegiatan keagamaan yang diselenggarakan takmir dan remaja masjid setempat. Memasuki bangunan inti masjid, pemandangan kontras terlihat jelas dibanding serambi masjid. Bangunan masjid masih orisinal atau asli dengan ukuran 6 meter x 6 meter.
“Masjid ini dikenal sebagai masjid tiban karena tidak ada yang tahu kapan waktu pendiriannya. Simbah saya saja tidak tahu kapan masjid ini didirikan. Apalagi saya yang generasi ketiga. Tahu-tahu, masjid ini sudah berdiri di sini,” kata penasihat takmir Masjid Al Barokah, Mukiman Sapto Mulyono, saat diwawancarai Espos, Sabtu (14/3/2026).
Bangunan inti masjid menggunakan arsitektur tradisional Jawa dengan struktur empat saka guru yang terbuat dari kayu jati sebagai penopang masjid. Setiap penyangga memiliki dua pasang kayu yang membentuk sudut siku-siku di bagian atas.
Jika diitung, terdapat lima kayu pembentuk yang dipercayai masyarakat sebagai rukun Islam. Lokasi Masjid Tiban menyatu dengan makam Pangeran Sumedangan yang terletak di sisi selatan masjid.
“Bagi warga setempat, bangunan inti masjid ini sakral. Masyarakat meyakini saka guru masjid merupakan simbol kekuatan gaib. Dahulu, ada laki-laki yang berasal dari luar kampung mampir ke masjid. Laki-laki itu bersandar di saka guru masjid dan tertidur. Setelah terbangun, posisinya sudah di luar masjid, di bawah pohon,” ujar dia.
Renovasi Bertahap
Bangunan Masjid Tiban direnovasi oleh pengurus takmir secara bertahap. Renovasi kali pertama dilakukan pada era 80-an dengan meninggikan lantai masjid dan membangun tembok. Kemudian, renovasi secara berulang kali dilakukan di bagian serambi masjid agar lebih luas dan memadai.
Menurut Mukiman, bangunan inti masjid diutamakan hanya untuk ibadah salat. Sementara kegiatan keagamaan seperti TPA dan pengajian digelar di serambi masjid.
“Kalau tampak depan, bangunan masjid terlihat modern karena memang bangunan baru. Kami tak berani menyentuh bangunan inti masjid karena sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo,” papar dia.
Sementara itu, pegiat sejarah asal Sukoharjo, Yudianto Ari Wibowo, mengatakan Masjid Tiban di Desa Gentan, Bendosari, merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Jamu. Masjid Tiban diperkirakan dibangun pada masa Raja Kesultanan Mataram Sultan Agung. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam Pangeran Sumedangan di area masjid yang menjadi adipati di wilayah Jawa Barat.
Kala itu, Pangeran Sumedangan memilih tinggal dan menetap di wilayah Desa Gentan, Bendosari. “Bangunan Masjid Tiban menjadi simbol syiar Islam pada zaman dahulu. Masjid ini memiliki nilai histori yang kuat lantaran berhubungan erat dengan Pangeran Sumedangan yang menjadi adipati Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo,” jelas dia.

Leave a Reply