Jejak Makam Tionghoa di Kawasan Jebres Solo, Pagoda ISI Jadi Penanda

Jejak Makam Tionghoa di Kawasan Jebres Solo, Pagoda ISI Jadi Penanda
Kondisi Pagoda ISI Solo yang menjadi penanda sejarah Bong Mojo di Kampus II ISI Solo, Jumat (3/7/2026). (Daerah/Ahmad Kurnia)

Nusatime.com, SOLO – Kota Solo memiliki banyak area khusus yang difungsikan sebagai permakaman. Namun, banyak pula yang sudah hilang tanpa jejak maupun nyaris hilang, tinggal menunggu waktunya. Salah satunya kompleks permakaman masyarakat Tionghoa di Solo.

Kompleks permakaman tersebut seiring waktu semakin mengecil. Ada banyak faktor penyebabnya, baik karena pembangunan yang bersifat privat maupun publik yang menyita banyak ruang kosong, atau lainnya.

Saat ini kompleks permakaman tersisa di kawasan Jl Mojo, Jebres, tepatnya sisi barat, dan itu pun berdampingan dengan permukiman warga. Sementara di sisi timurnya, sudah beralih fungsi menjadi Pasar Mebel Solo, Kantor UPTD Transportasi Dishub Solo, serta permukiman warga.

Bukan tidak mungkin seiring berjalannya waktu, kompleks permakaman yang kerap disebut Bong Mojo itu bernasib sama seperti kerkhof atau kompleks permakaman Belanda, hilang tanpa jejak. 

Jika hal itu terjadi, peneliti Sraddha Institute Solo, Rendra Agusta, mengatakan masyarakat Solo akan kehilangan narasi sejarah yang pemerannya adalah masyarakat Tionghoa di Solo masa lalu.

“Kita dan generasi setelah kita hanya akan memiliki satu monumen berupa Pagoda ‘Baota’ ISI Solo, yang mengingatkan bahwa pernah ada kompleks permakaman masyarakat Tionghoa di Solo,” kata Rendra saat diwawancarai Espos, Kamis (2/7/2026).

Pagoda tersebut, lanjut dia, menjadi penanda penting karena sejauh ini belum ada catatan sejarah yang berisi narasi pembangunan kompleks, tokoh Tionghoa yang berpengaruh dan pernah dimakamkan di situ. Lebih luas lagi menyangkut situasi sosial, politik, dan ekonomi yang terkait dengan Bong Mojo yang pernah terjadi pada masa lalu. 

“Hampir sama terjadi [hilang nyaris tanpa jejak] pada Kerkhof Belanda di kawasan Jebres, tepatnya Rusunawa yang dinamai mirip asalnya, Kerkop. Namun di situ sedikit beruntung pernah diketahui ada tokoh penting, seorang linguis asal Belanda, CF Winter, yang juga sahabatnya Pujangga Ranggawarsita, pernah dimakamkan di situ kemudian dipindahkan,” jelasnya.

Hal ini sangat kontras dengan kompleks permakaman masyarakat Jawa, yang dirawat sehingga jika ada tokoh atau peristiwa penting dalam sejarah, masyarakat masih mungkin mengingatnya. 

Asal-usul Makam Tionghoa di Jebres

Kompleks permakaman masyarakat Tionghoa bisa berada di kawasan Mojo, Jebres, hingga saat ini belum diketahui alasan pastinya, termasuk kapan mulai dijadikan kompleks permakaman. Yang diketahui baru seputar rumah persemayaman Thiong Ting yang dihibahkan oleh PB VII sekitar 1856.

Untuk keberadaan kompleks permakaman tersebut, Rendra menyebut saat ini catatan masa lalu yang diketahui berasal dari seorang naturalis asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, yang pernah melakukan ekspedisi pegunungan di Jawa. Pada 1840-an ia melintasi Solo hendak menuju ke Gunung Lawu.

“Saat melintasi Solo itu, Junghuhn mencatat ‘saya berjalan ke timur, sebelum menyeberangi Sungai Bengawan Solo, saya melihat di kiri jalan ada pegunungan yang berisi permakaman Tionghoa’. Jika dia menyebut ‘pegunungan berisi permakaman’ artinya sudah banyak makam di sana. Itu menunjukkan kawasan Jebres sudah lama menjadi pusat makam masyarakat Tionghoa,” kata dia. 

Rendra menduga luas kompleks permakaman mencapai belasan hektare yang mencakup kawasan Thiong Ting hingga kawasan Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo serta kawasan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo I dan II. 

Kawasan tersebut yang kondisi geografisnya tidak rata juga dianggap memenuhi syarat tradisi, yang mana seperti halnya Jawa, masyarakat Tionghoa percaya perbukitan atau pegunungan tempat yang cocok untuk permakaman.

“Menariknya, Pagoda di ISI itu berada paling atas. Bukan tempat untuk pemujaan dalam arti sembahyang, bisa jadi sebagai penghormatan sekaligus penanda bahwa kawasan itu adalah kompleks permakaman,” tambahnya.

Namun, saat ini di sekitar lokasi Pagoda itu sudah tidak ada lagi bong pay. Hal itu disebabkan pembangunan masif gedung-gedung kampus di sekitarnya mulai dekade 1980-an, diikuti pula dengan bangunan lain yang masih berlangsung hingga saat ini.

Sementara untuk jenazah dan peninggalan lainnya sudah dipindahkan ke berbagai tempat, termasuk di kawasan Delingan, Karanganyar. “Dalam catatan sejarah, orang-orang Tionghoa sudah terlibat aktif dalam aktivitas masyarakat sejak masa Surakarta awal,” jelasnya.

Kurang Terawat

Seiring berjalannya waktu, lanjut Rendra, mereka ada yang memainkan peran penting, entah itu sebagai pengurus pajak tanah, pedagang mapan, ilmuwan, dan sebagainya yang kemudian dikenal dengan julukan ‘mayor China’, ‘kapitan Tionghoa’, dan sebagainya. 

“Bukan tidak mungkin salah satu atau dua dari mereka yang penting itu pernah dimakamkan di kompleks permakaman yang luas itu. Namun saat sekarang kita belum tahu apa-apa tentang itu semua,” ujarnya.

Mengutip penulis asal Spanyol, George Santayana, mereka yang tidak mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya, Rendra berharap ada penelitian mendalam dan kepedulian berbagai pihak untuk menghidupkan narasi-narasi sejarah yang mungkin ada pelajaran yang bisa diambil darinya. “Pagoda yang tersisa itu mungkin bisa menjadi titik mulanya,” tutup Rendra. 

Pantauan Espos, Pagoda di kawasan Kampus II ISI Solo yang menjadi cagar budaya Solo sejak 2017 tampak kurang terawat. Tiap sisi bangunan yang berjumlah enam sisi dan tujuh tingkatan tersebut dipenuhi vandalisme. Sebagian lagi kulit beton terkelupas sehingga batu bata penyusunnya terlihat.

Kondisi itu sangat kontras dengan kawasan di sekitar yang berupa amphiteater mini berada di sekeliling pagoda yang rapi berdiamater lebih kurang 70 meter.  Pada Pagoda Mojosongo itu ada keterangan bahwa bangunan itu merupakan salah satu peninggalan leluhur dan menjadi salah satu cagar budaya di Kelurahan Mojosongo, tepatnya di dalam kampus ISI Solo.

Pagoda terdiri dari tujuh susunan bangunan yang menggambarkan tujuh susunan tubuh manusia yaitu: Rambut, Kulit, Daging, Darah, Otot, Tulang, Sumsum. Pagoda ditanami pohon mojo yang berjumlah sembilan, yang diberi nama sebagai berikut: Mojo Grono, Mojo Grono, Mojo Paningal, Mojo Paningal, Mojo Talingan, Mojo Talingan, Mojo Tuthuk, Mojo Wadi, Mojo Wadigang.

Lambang babahan howo songo yang harus dijaga oleh umat untuk mencapai kesempurnaan hidup serta mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Leave a Reply