Nusatime.com, MAGETAN – Video amatir berdurasi 1 menit 10 detik yang memperlihatkan proses evakuasi korban kecelakaan tunggal di jalur Sarangan-Tawangmangu beredar di sejumlah grup WhatsApp. Dalam video tersebut, sejumlah warga terlihat mengevakuasi dua pengendara sepeda motor yang terperosok ke dalam parit, dengan satu korban tergeletak mengalami luka parah dan satu lainnya meninggal dunia tertindih kendaraan.
Salah satu warga setempat, Bayu, mengatakan kecelakaan tersebut dialami dua warga Kabupaten Ngawi di pertigaan Singolangu Bawah, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Minggu (16/8/2026) malam. Kecelakaan itu baru diketahui warga pada keesokan harinya karena posisi kedua korban dan sepeda motor berada di dalam parit.
“Kejadiannya hari Minggu. Videonya memang baru viral sekarang. Kami duga kecelakaannya pada malam hari, lalu baru diketahui keesokan paginya. Posisinya memang di dalam parit sehingga tidak langsung terlihat pengguna jalan,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Bayu menjelaskan kecelakaan bermula saat sepeda motor Yamaha Vixion berpelat nomor AE 5378 LA yang dikendarai BP, 26, warga Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi, bersama RS, 19, melaju dari arah Telaga Sarangan. Motor tersebut diduga mengalami gangguan pada sistem pengereman hingga akhirnya menabrak talut di depan Homestay Taman Remaja Sarangan.
Setelah menabrak talut, motor kemudian terperosok ke dalam parit di sisi jalan. Posisi motor dan kedua korban yang berada di dalam parit membuat kecelakaan tersebut tidak langsung diketahui pengguna jalan yang melintas.
Parit Terbuka Dinilai Membahayakan
Oleh warga, BP ditemukan tertindih sepeda motor dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, RS masih dalam kondisi hidup meski mengalami luka parah dan kemudian dievakuasi ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.
“Dibawa ke Puskesmas kemarin, engga tahu kondisinya sekarang,” jelasnya.
Menurut Bayu, keberadaan parit yang tidak dilengkapi penutup atau pengaman berpotensi membuat korban kecelakaan sulit ditemukan, terutama ketika kecelakaan terjadi pada malam hari. Kondisi tersebut dinilai semakin berisiko karena jalur Sarangan-Cemorosewu dipenuhi tikungan dan turunan.
Bayu menyebut persoalan parit terbuka di jalur Sarangan-Cemorosewu bukan kali pertama menjadi perhatian warga. Sekitar satu tahun lalu, seorang mahasiswi yang dalam perjalanan pulang kuliah juga disebut mengalami kecelakaan hingga masuk ke dalam parit.
“Korban waktu itu bahkan baru diketahui beberapa hari kemudian. Semoga tidak ada korban lagi. Parit-parit dalam seyogianya diberi penutup untuk meminimalkan adanya korban,” tambahnya.
Ia mendesak keberadaan parit terbuka di jalur wisata Sarangan menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Menurutnya, saluran air di sisi jalan semestinya tidak justru menjadi perangkap bagi wisatawan maupun pengguna jalan yang melintas.
“Seharusnya parit-parit yang dalam di jalur wisata diberi penutup. Kalau terjadi kecelakaan, korban bisa segera diketahui sehingga dapat meminimalkan risiko korban jiwa,” kata dia.

Leave a Reply