Kemarau Panjang Boyolali Diprediksi hingga 2027, 11 Juta Liter Air Disiapkan

Kemarau Panjang Boyolali Diprediksi hingga 2027, 11 Juta Liter Air Disiapkan
Petugas BPBD Boyolali saat droping bantuan air bersih di Samiran, Selo, Boyolali, Jumat (26/6/2026). (Istimewa/BPBD Boyolali)

Nusatime.com, BOYOLALI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menyiapkan sekitar 11 juta liter air bersih sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi kemarau panjang dampak fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawaludin, mengatakan dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino diperkirakan berlangsung hingga awal 2027. Pemkab Boyolali menghitung hingga November 2026 kebutuhan dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan mencapai sekitar 7 juta liter air.

“Kami sudah menghitung kebutuhan sementara sampai November 2026. Kalau kemarau sampai awal tahun, sekitar 11 juta liter air kebutuhan yang harus kami siapkan untuk memberikan dropping air bersih di 11 kecamatan [yang rawan kekeringan],” kata dia kepada wartawan seusai rapat koordinasi (rakor) Antisipasi dan Penanganan Kebencanaan di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali, Jumat (21/8/2026).

Ia mengatakan pada 2023 sempat terjadi kemarau panjang di Boyolali. Saat itu, 13 kecamatan terdampak kekeringan.

Syawal mengatakan solusi jangka pendek yang dilakukan yaitu mendistribusikan air bersih bersama berbagai sektor. Selain itu, Pemkab Boyolali juga mencari titik sumber air dan membuat bak penampungan.

“Solusi jangka panjang, kami juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang untuk mengambil dari Senjaya,” kata dia.

Ia mengatakan hal tersebut tentu membutuhkan pembicaraan teknis dengan Pemkab Semarang. Syawal mengatakan dengan pengambilan air dari Kabupaten Semarang diperlukan tanggung jawab bersama. Tujuannya agar tidak mengganggu pengguna air di Kabupaten Semarang.

Pemkab Boyolali juga mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan dengan bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Sepakat semua stakeholder, termasuk desa, kecamatan, hingga instansi vertikal menggiatkan sosialisasi untuk kewaspadaan kegiatan di masyarakat. Jangan sampai resisten terhadap kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Syawal juga mengatakan di sektor pertanian, Pemkab Boyolali gencar memberikan bantuan bibit jagung.

Sementara itu, Plt. Kepala BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan hingga November 2026 pihaknya bersama stakeholder lain akan menyiapkan sekitar 7 juta liter air bersih.

“Awalnya kan 1,25 juta liter air bersih dari APBD murni, hanya saja untuk penambahan nantinya akan ditaruh di anggaran perubahan,” kata dia.

Sebanyak 11 kecamatan di Boyolali masuk dalam daftar daerah rawan kekeringan pada 2026. Selain itu, sembilan kecamatan ditetapkan sebagai daerah siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Boyolali Nomor 100.3.3.2/487 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla.

Plt. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan kondisi kekeringan dipengaruhi periode tanpa hujan yang cukup panjang dan rendahnya curah hujan.

Menurut prediksi BMKG, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung cukup panjang, mulai Juli hingga awal 2027.

“Kondisi ini berkaitan dengan periode tanpa hujan yang cukup panjang dan rendahnya curah hujan,” kata Ari kepada wartawan seusai rapat koordinasi Antisipasi dan Penanganan Kebencanaan di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali, Jumat (21/8/2026).

Sebanyak 11 kecamatan yang masuk daftar rawan kekeringan yakni Ampel, Andong, Cepogo, Gladagsari, Juwangi, Kemusu, Musuk, Selo, Tamansari, Wonosamodro, dan Wonosegoro.

Namun, Ari mengatakan wilayah di luar daftar tersebut juga dapat mengalami kekeringan. Dia mencontohkan Sangge, Klego, yang tidak masuk dalam 11 kecamatan rawan kekeringan tetapi sempat mengalami kekeringan.

“Akan tetapi ada juga daerah Sangge, Klego yang tidak masuk dalam 11 rawan kekeringan, ternyata kemarin mengalami kekeringan,” kata dia.

Selain kekeringan, Pemkab Boyolali juga menetapkan sembilan kecamatan sebagai daerah berstatus siaga darurat karhutla.

Sembilan kecamatan tersebut yakni Cepogo, Gladagsari, Juwangi, Kemusu, Musuk, Selo, Tamansari, Wonosamodro, dan Wonosegoro.

Ari mengatakan telah terjadi 14 kejadian karhutla di Boyolali pada periode 21 Juni hingga 18 Agustus 2026. Kebakaran tersebut tersebar di tujuh kecamatan dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 4,60555 hektare.

“Hingga periode 21 Juni hingga 18 Agustus 2026, terdapat 14 kejadian karhutla di Boyolali dengan total luas 4,60555 hektare di tujuh kecamatan,” jelasnya.

Menurut Ari, kebakaran umumnya dipicu pembakaran sampah dan kelalaian. Waktu penanganan kebakaran bervariasi, mulai 30 menit hingga tiga jam.

Karhutla tersebut dapat menyebabkan kerusakan lahan dan vegetasi, berpotensi membahayakan permukiman serta fasilitas umum, hingga mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Mari cegah kebakaran hutan dan lahan dengan tidak membakar sampah sembarangan, jangan meninggalkan api, dan lapor segera jika melihat kebakaran,” kata Ari.

Leave a Reply