Nusatime.com, BOYOLALI – Masjid Jamii’ Jalaluddin, masjid kuno di Dukuh Glinggang, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Boyolali terbakar, Kamis (19/3/2026). Bangunan masjid yang didominasi kayu jati kuno ludes dilalap si jago merah. Peristiwa itu terjadi bersamaan waktu sahur sekitar pukul 03.50 WIB. Tidak ada yang mengetahui pasti awal mula kebakaran.
Warga melihat api sudah menyala dari bagian dalam masjid berumur ratusan tahun tersebut. Warga kemudian berdatangan ke lokasi dan hendak memadamkan api secara manual. “Tetapi juga tidak bisa berbuat banyak karena masjid itu bahannya terbuat dari kayu. Sehingga dikhawatirkan ketika masyarakat itu berada di dekat bangunan itu nanti kalau sampai roboh justru membahayakan masyarakat itu sendiri. Jadi hanya sebisanya dengan jarak tertentu,” ungkap Camat Kemusu, Rudhiyanto, saat dihubungi Espos.id, Kamis.
Api berhasil dipadamkan petugas Damkar Satpol PP Boyolali yang mendatangi lokasi dibantu Polisi serta sukarelawan dan PLN. Sekitar pukul 06.30 WIB, pemadaman selesai. Api tak sampai merembet ke bangunan lain. Namun, bangunan masjid bersejarah ambruk.
Rudhiyanto menjelaskan masjid tersebut sedianya menjadi lokasi Salat Idul Fitri. Lantaran bangunan sudah hangus dilalap api, Muspika menyarankan agar kegiatan Salat Idul Fitri bisa digelar di halaman masjid serta jalan sekitar masjid.
“Tadi saya sampaikan ke takmirnya kalau ini mau dibersihkan itu tetap berisiko karena banyak sisa-sisa bangunan yang terbakar. Nanti khawatir kan malah membahayakan terutama bagi anak-anak. Jadi nanti Salat Id kami sarankan berada di halaman dan jalan di sekitar masjid,” kata Rudhiyanto.
Kabid Damkar Satpol PP Boyolali, Supriyono, memastikan tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu. Sekitar 90 persen bangunan masjid berukuran 20 meter x 40 meter hangus dilalap si jago merah.
Dugaan sementara kebakaran itu disebabkan akibat korsleting listrik. “Kemungkinan besar api berasal dari colokan mixer pengeras suara,” kata Supriyono.
Supriyono mengungkapkan bahan bangunan 90 persen kayu jati dan baru semalam diplitur membuat api cepat membesar. Salah satu kendala pemadaman yakni akses menuju lokasi. “Jalan menuju lokasi berupa tanjakan dan turunan cukup ekstrem, kondisi jalan cor sudah rusak,” ungkap Supriyono.
Berdasarkan catatan Espos, Masjid Jamii’ Jalaluddin tergolong unik. Arsitektur masjid terinspirasi dari Masjid Demak. Bangunan masjid 100 persen terbuat dari kayu jati kuno.
Pembangunan masjid itu kali pertama dirintis pemuka agama bernama Kyai Sahal. Sempat terhenti karena tak semua masyarakat setempat beragama Islam, pembangunan masjid kemudian dilanjutkan murid Kyai Sahal yakni Mbah Jalal.
Tak ada yang tahu pasti kapan kali pertama Masjid Jamii’ Jalaluddin. Namun, masjid itu diperkirakan sudah berumur 200 tahun.

Leave a Reply