Meriah! Eco Culture Night Carnival Karanganyar Bawa Pesan Bhinneka Tunggal Ika

Meriah! Eco Culture Night Carnival Karanganyar Bawa Pesan Bhinneka Tunggal Ika
Bupati Karanganyar, Rober Christanto, saat mengikuti Karanganyar Eco Culture Night Carnival 2026, Selasa (18/8/2026) malam. (Espos-Indah Septiyaning Wardani)

Nusatime.com, KARANGANYAR — Ribuan warga tumplek blek di sepanjang Jalan Lawu, mulai kawasan Alun-alun hingga Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Selasa (18/8/2026) malam. Mereka memadati ruas jalan untuk menyaksikan Karanganyar Eco Culture Night Carnival 2026 yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Malam itu, jalan utama Karanganyar berubah menjadi panggung budaya. Seni tradisional berpadu dengan pawai kendaraan hias, sementara miniatur Candi Sukuh dan Candi Cetho ikut dibawa dalam arak-arakan sebagai representasi kekayaan budaya Kabupaten Karanganyar.

Yang tak kalah menarik adalah penampilan jajaran pejabat daerah dengan kostum raja-raja kerajaan Nusantara. Bupati Karanganyar Rober Christanto tampil sebagai Raja Mulawarman, sedangkan Ketua DPRD Karanganyar Bagus Selo mengenakan kostum Raja Sriwijaya.

Konsep tersebut bukan sekadar upaya mempercantik tampilan karnaval. Di balik kostum para raja, terselip pesan tentang persatuan dan keberagaman yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Rober mengatakan pemilihan konsep raja-raja Nusantara berkaitan dengan perjalanan panjang sejarah Indonesia. Berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian bermuara pada terbentuknya Indonesia sebagai negara kesatuan.

“Makna filosofinya ini bersatu, kesatuan Indonesia. Memberikan makna bahwa sesarengan, seluruh warga masyarakatnya bersatu tanpa membedakan berasal dari daerah mana,” ujar Rober kepada wartawan di sela kegiatan.

Menurut dia, perbedaan latar belakang dan asal daerah tidak semestinya menjadi sekat dalam membangun daerah. Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam slogan “Sesarengan Bangun Karanganyar” yang menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Rober juga menilai kemeriahan karnaval bukan semata-mata hasil dukungan anggaran pemerintah daerah. Sejumlah pelaku usaha dan komunitas ikut terlibat dalam kegiatan tersebut, di antaranya pengusaha sound system dari APSI, Aeromax, dan Margo Mulyo.

“Mereka ingin mendedikasikan dirinya untuk Karanganyar, untuk memamerkan dan menghibur masyarakat,” katanya.

Menurut Rober, keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi gambaran semangat gotong royong dalam mengisi kemerdekaan. Masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah dapat berbaur dalam satu kegiatan yang dinikmati bersama.

“Bukan hanya APBD, tetapi semuanya berbaur bareng-bareng menjadikan semangat mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya, mendedikasikan dirinya untuk Karanganyar,” ujarnya.

Karnaval Malam Dongkrak Ekonomi dan Promosi Budaya

Kemeriahan karnaval juga membawa dampak bagi pelaku usaha kecil. Sejak pagi, sejumlah pelaku UMKM telah memadati lokasi kegiatan untuk berjualan. Kehadiran ribuan warga menjadi peluang bagi mereka untuk mendapatkan tambahan penghasilan sekaligus memperkenalkan produk kepada pengunjung.

“Dampak ekonominya luar biasa. Dari kemarin baru ditata kemudian mereka sudah antusias,” kata Rober.

Rober mengatakan karnaval tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua yang digelar pada malam hari. Format tersebut dipertahankan karena dinilai memberikan kenyamanan bagi peserta maupun penonton, sekaligus mampu meningkatkan antusiasme masyarakat.

“Sudah dua tahun. Tahun kemarin semuanya nyaman, baik penonton maupun peserta. Hari ini pesertanya juga luar biasa,” ujarnya.

Jumlah peserta yang sebelumnya sekitar 40 kelompok juga terus bertambah. Rober berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan dan masuk dalam kalender event Kabupaten Karanganyar.

“Kalau ini berhasil, ke depan menjadi kalender event. Mestinya bisa menampilkan pengusaha-pengusaha yang ada di Kabupaten Karanganyar. Bukan hanya di Karanganyar, mungkin akan bisa men-support,” katanya.

Dengan agenda yang terjadwal, Pemkab Karanganyar berharap semakin banyak masyarakat dari luar daerah yang datang. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal budaya, kreativitas, produk UMKM, serta berbagai potensi yang dimiliki Karanganyar.

Pesan persatuan juga disampaikan Ketua DPRD Karanganyar Bagus Selo. Mengenakan kostum Raja Sriwijaya, Bagus mengatakan konsep raja-raja Nusantara sengaja dipilih untuk mengenalkan kembali perjalanan sejarah Indonesia kepada masyarakat.

“Konsepnya hanya menunjukkan raja-raja Nusantara dalam karnaval ulang tahun kemerdekaan ke-81 tahun,” kata Bagus.

Menurut dia, jauh sebelum Indonesia berbentuk republik, wilayah Nusantara telah dihuni dan dipengaruhi berbagai kerajaan besar. Jejak sejarah tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya Indonesia.

“Berdirinya Indonesia itu sebelumnya ada raja-raja, kerajaan-kerajaan yang sekarang menjadi republik, menyatukan dari beberapa kerajaan di beberapa pulau yang ada,” ujarnya.

Karena itu, Bagus menilai konsep Nusantara dalam karnaval memiliki pesan kuat agar masyarakat tidak melupakan keberagaman sekaligus tetap menjaga persatuan.

“Nusantara artinya memang harus menjaga kerukunan, menjaga persatuan. Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar sekaligus Ketua Panitia, Yopi Eko Jatiwibowo, mengatakan Pemkab Karanganyar ingin mengubah wajah pawai kemerdekaan menjadi pertunjukan yang lebih tematik.

Tahun ini, kegiatan dikemas dengan tajuk Karanganyar Eco Culture Night Carnival. Unsur seni, budaya, dan pesan lingkungan menjadi bagian penting dalam karnaval. Tema eko-kultur dipilih untuk menggabungkan dua pesan utama, yakni merawat alam dan melestarikan budaya.

Setiap peserta menampilkan kreativitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan sesuai tema.

“Intinya pokoknya merawat alam, melestarikan budaya, kemudian mengajak masyarakat untuk semakin mempererat persatuan, kesatuan, dan gotong royong,” tutur Yopi.

Sebagai penanda berakhirnya rangkaian karnaval, acara ditutup dengan pesta kembang api. Atraksi tersebut menjadi penutup sekaligus magnet terakhir yang membuat warga tetap bertahan hingga penghujung acara.

Lebih dari sekadar hiburan tahunan, Pemkab Karanganyar berharap Eco Culture Night Carnival dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya sekaligus mengajak masyarakat menjaga lingkungan. Semangat tersebut berpadu dengan pesan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi benang merah karnaval tahun ini.

Leave a Reply