Meriahnya Pentas Seni Naluri Reog Brijo Lor Klaten, Warga Padati Jalan Kampung

Meriahnya Pentas Seni Naluri Reog Brijo Lor Klaten, Warga Padati Jalan Kampung
Para pemain mementaskan Seni Naluri Reog Brijo Lor di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Sabtu (21/3/2026). (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Nusatime.com, KLATEN – Warga Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk menggelar pentas Seni Naluri Reog Brijo Lor di momen Lebaran, Sabtu (21/3/2026). Pentas seni yang sudah berlangsung secara turun temurun itu menjadi agenda rutin tahunan yang digelar saat memasuki awal Bulan Syawal atau momen Lebaran.

Para pemain reog yang merupakan warga setempat tampil di halaman masjid Al Fatah di tengah permukiman. Pentas dimulai sejak pukul 13.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Jalanan kampung mendadak penuh disesaki warga hingga pedagang kuliner dan wahana permainan. Warga menyemut di sekeliling tempat pentas. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak menikmati penampilan para pemain yang sudah melestarikan kesenian itu secara turun temurun.

Para pemain tampil atraktif. Pada penampilan pembuka, para penari mengenakan kostum didominasi warna merah, menari menggunakan kuda lumping sembari membawa kayu serta pedang selayaknya hendak maju ke medan laga. Tarian mereka serempak mengikuti tabuhan gamelan yang menggema di tengah perkampungan.

Salah satu tokoh pelestari Seni Naluri Reog Brijo Lor, Suratman, mengungkapkan kegiatan itu menjadi agenda rutin sebagai upaya melestarikan warisan leluhur. Warga belum mengetahui sejak kapan kesenian itu digelar.

Suratman mengungkapkan sejak dia lahir 66 tahun silam, kesenian itu sudah ada. Dia pun tak menampik jika pentas kesenian itu diperkirakan sudah berumur lebih dari seabad.

Pentas kesenian itu tak bisa dilepaskan dari tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut yakni Ki Ageng Glego. Makamnya terletak di belakang masjid tempat pentas. “Ki Ageng Glego yang waktu itu mandegani adanya seni ini,” kata Suratman saat ditemui Espos di sela pentas.

Pentas seni itu tak pernah absen digelar. Pun halnya ketika ada pandemi Covid-19. Pentas seni tetap digelar dengan menyiasati waktu tampil agar tak menimbulkan kerumunan. “Jadi waktu zaman Covid itu diadakan pukul 04.00 WIB pagi biar tidak ada penonton,” ungkap Suratman.

Ada 50 pemain pentas seni tersebut terdiri dari para penabuh hingga penari. Rentang usia mereka bervariasi dari usia kelas 1 SMA hingga mendekati 70 tahun. Penampilan mereka terbagi dalam beberapa babak mulai dari jejer hingga perang.

Menariknya, tak sembarangan warga bisa menjadi penari maupun penabuh gamelan. Para pemain merupakan keturunan dari generasi sebelumnya sejak pentas itu digelar semasa hidupnya Ki Ageng Glego.

“Kesenian ini dilestarikan secara turun temurun. Jadi semua anggota dan pengurusnya mayoritas dari turunan, melanjutkan dari orang tua mereka. Jadi kalau bukan turunan tidak bisa masuk dalam keanggotaan seni reog naluri,” kata Suratman.

Pentas itu menjadi hiburan bagi warga. Termasuk para perantau yang pulang kampung. Banyak warga di wilayah Brijo Lor dan sekitarnya merupakan para perantau.

Para pemain mementaskan Seni Naluri Reog Brijo Lor di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Sabtu (21/3/2026). (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)
Para pemain mementaskan Seni Naluri Reog Brijo Lor di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Sabtu (21/3/2026). (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Mereka menyebar ke berbagai kota. Tak hanya di Pulau Jawa, ada yang merantau hingga ke Kalimantan serta Papua. Sebagian bekerja sebagai pedagang salah satu yang populer yakni pedagang es puter di tanah perantauan.

Suratman mengungkapkan sebagian pemaian Seni Naluri Reog Brijo Lor juga menjadi perantau. Hampir 50 persen pemain merantau ke berbagai kota dan berusaha pulang kampung saat Lebaran tiba untuk ikut melestarikan seni naluri.

“Kalau latihan itu karena dengan adanya naluri, jadi enggak usah pakai latihan sudah bisa,” kata Suratman.

Seni Naluri Brijo Lor merupakan kesenian asli warga di Desa Kalikebo dan sudah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025 lalu. Warga bertekad untuk terus melestarikan kesenian asli tersebut di tengah masuknya gempuran budaya asing.

“Semoga warga terutama di wilayah Dukuh Brijo Lor dan Dosaran selalu melestarikan kebudayaan seni reog naluri ini sampai selama-lamanya,” kata Suratman.

Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Setda Klaten, Sutopo, mengapresiasi upaya warga melestarikan seni yang sudah digelar secara turun temurun itu. “Kami berharap seni naluri ini terus dilestarikan jangan sampai tertindas dengan budaya lain,” kata Sutopo.

Leave a Reply