Nusatime.com, SOLO — Puluhan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Solo berkesempatan untuk berkeliling melihat-lihat area Pura Mangkunegaran Solo, Minggu (29/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para siswa beserta guru pendamping dan orang tua diajak berkeliling melintasi sejumlah area bersejarah, mulai dari Pamedan, Pendopo Ageng, Pringgitan, Taman Keputren atau Bale Warni, hingga berakhir di Taman Pracima Tuin.
Di area Pracima Tuin, para siswa berkesempatan bertatap muka langsung dengan KGPAA Mangkunagoro X. Pria yang akrab disapa Gusti Bhre itu tampak hangat menyalami satu per satu siswa SLB sembari melayani permintaan foto bersama.
Mangkunagoro X menjelaskan kehadiran para siswa SLB ini merupakan wujud nyata dari peluncuran program Sumunar Mangkunegaran.
“Hari ini sebetulnya adalah launching dari salah satu program baru kami bernama Sumunar. Kami sangat percaya bahwa ruang yang kami miliki di Pura ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bisa membawa manfaat bagi teman-teman kita,” katanya kepada wartawan, Minggu.
Mangkunagoro X membeberkan kata Sumunar berarti bersinar. Ia berharap program ini bisa menjadi sinar yang membawa kehangatan, kecerahan, dan kebahagiaan.
“Setiap pribadi pasti punya kesulitan dan tantangannya masing-masing. Untuk adik-adik yang berkebutuhan khusus, tentu punya tantangan yang tidak mudah. Di antara kesulitan itu, semoga ada sedikit kebahagiaan dari pengalaman di Mangkunegaran. Sesama manusia tentu kita harus saling memanusiakan manusia,” katanya.
Meski momen peluncuran ini bertepatan dengan hari perayaan ulang tahunnya, Mangkunagoro X menegaskan fokus utama acara ini murni untuk berbagi ruang dan kebahagiaan dengan masyarakat.
Ke depannya, Mangkunagoro X menargetkan program Sumunar dapat berjalan rutin setiap dua pekan sekali, tepatnya pada hari Sabtu. Bahkan, jika memungkinkan, intensitasnya akan ditingkatkan menjadi sepekan sekali.
Sasarannya pun tidak akan terbatas pada warga Solo. Ia berencana memperluas jangkauan program ini untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarga dari wilayah Soloraya.
Untuk mekanismenya, ia membuka pintu seluas-luasnya, baik melalui sistem undangan langsung maupun pendaftaran mandiri oleh masyarakat. “Sebagai awalan tentu perlu pengenalan dan sosialisasi. Ke depannya, siapa pun yang ingin merasakan momen-momen di Mangkunegaran, pokoknya kami menerima dengan sangat terbuka,” katanya.
Ajang Relaksasi
Salah satu guru pendamping khusus (GPK) PKBM Lazuardi Kamila Kota Solo, Lutfiana Aprilia Rosyidah, menilai kesempatan ini bisa membuat siswa berkebutuhan khusus belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan.
Lutfiana mematahkan stigma yang kerap beredar di masyarakat bahwa anak berkebutuhan khusus selalu memiliki keterbatasan dalam menyerap pelajaran. Menurutnya, banyak ABK yang justru memiliki tingkat keingintahuan intelektual yang sangat tinggi pada bidang-bidang tertentu.
“Untuk anak berkebutuhan khusus, acara kumpul dan kunjungan ke Mangkunegaran ini sangat bermanfaat. Tidak semua anak berkebutuhan khusus itu intelektualnya di bawah rata-rata. Banyak juga yang daya minat dan keingintahuannya sangat tinggi,” ujar Lutfiana kepada Espos di sela-sela pendampingan.
Ia mencontohkan salah satu anak didiknya bernama Ryan yang memiliki keahlian dan ketertarikan yang sangat mendalam pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya yang berkaitan dengan sejarah.
Oleh karena itu, ketika PKBM Lazuardi Kamila mendapatkan undangan resmi dari Mangkunegaran, Lutfiana merasa program ini adalah wadah yang sangat presisi untuk menyalurkan bakat sang anak.
“Keahlian Ryan itu lebih ke IPS. Jadi sangat cocok sekali kalau saya bawa ke sini. Alhamdulillah, kami ke sini mendapat undangan langsung dari Mangkunegaran, dan pengalaman ini sangat bermanfaat untuk kedua anak didik yang saya bawa hari ini,” paparnya.
Menurutnya, kegiatan outdoor di lingkungan cagar budaya yang asri seperti Mangkunegaran memberikan efek relaksasi bagi para siswa. “Manfaatnya sangat terasa untuk menambah rileks tubuh dan pikiran anak-anak. Biasanya kan pelajaran selalu berpusat di dalam kelas, jarang sekali mereka diekspos ke lingkungan outdoor,” katanya.
Ia berharap agar program Sumunar Mangkunegaran ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.

Leave a Reply