Tunggal, Supriyanto Kandidat Kuat Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar

Tunggal, Supriyanto Kandidat Kuat Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar
Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar Tri Haryadi ketika diwawancarai beberapa waktu lalu. (Daerah/Indah Septiyaning Wardani)

Nusatime.com, KARANGANYAR — Supriyanto menjadi kandidat kuat Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar dalam Musyawarah Cabang (Muscab) yang dijadwalkan digelar pada 31 Agustus 2026 mendatang.

Nama Supriyanto menguat setelah menjadi satu-satunya kader yang mengembalikan berkas pendaftaran calon ketua. Sebelumnya, terdapat dua kader yang mengambil formulir pendaftaran, yakni Supriyanto dan Mubarak. Namun, hingga tahapan pengembalian berkas selesai, hanya Supriyanto yang mengembalikan formulir beserta persyaratan pencalonan.

Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar, Tri Haryadi, mengatakan kondisi tersebut membuat peta bursa calon ketua Partai Demokrat mengerucut kepada nama Supriyanto yang kini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Karanganyar. Meski demikian, Supriyanto belum resmi menjadi ketua karena proses pergantian kepemimpinan masih menunggu pelaksanaan Muscab.

“Pada waktu pendaftaran, Karanganyar yang mendaftar dua orang, ada Supriyanto dan Mubarak. Tapi pada saat pengembalian berkas, hanya Mas Supri yang mengembalikan berkas. Mas Mubarak tidak mengembalikan berkas,” ujar Tri kepada Espos, Selasa (18/8/2026).

Menurut Tri, proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Demokrat. Penetapan Ketua DPC tetap harus melalui tahapan Muscab dan sesuai dengan mekanisme organisasi yang berlaku.

Dengan kondisi tersebut, Supriyanto memiliki peluang besar untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Demokrat Karanganyar setelah Tri Haryadi.

Tri sendiri memastikan tidak mencalonkan diri kembali sebagai Ketua DPC Demokrat Karanganyar. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan usia serta tantangan politik yang akan dihadapi partai dalam lima tahun mendatang.

Tri yang kini berusia 62 tahun mengaku memilih memberi ruang kepada kader yang lebih muda. Menurutnya, tantangan organisasi dan politik ke depan akan jauh lebih berat sehingga membutuhkan energi serta inovasi baru.

“Makanya saya yang sudah di usia 62 tahun ini mencoba tahu diri. Untuk tantangan ke depan yang lebih berat, saya lebih baik tidak menjadi komandan di kabupaten,” kata Tri.

Keputusan Tri tidak maju kembali sekaligus membuka ruang regenerasi di tubuh Demokrat Karanganyar. Dia berharap kepemimpinan berikutnya mampu membawa organisasi menghadapi perubahan karakter politik masyarakat.

Menurut Tri, partai politik tidak bisa hanya mengandalkan jaringan konvensional. Penguatan struktur dan kaderisasi memang tetap penting, tetapi partai juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi pengurus baru adalah membangun kekuatan digital partai.

“Di partai itu nanti tidak cukup dengan bagaimana membentuk jaringan, bagaimana membangun kaderisasi. Tapi digitalisasi menjadi penting,” katanya.

Tri melihat digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap dalam aktivitas partai. Ruang digital telah menjadi salah satu arena penting untuk menyampaikan gagasan politik, membangun komunikasi dengan masyarakat, sekaligus memperkenalkan kader kepada pemilih.

Karena itu, dia menilai kader-kader muda perlu mendapatkan kesempatan lebih besar dalam kepengurusan Demokrat Karanganyar.

“Itulah yang membuat kami ingin menginovasi. Yang lebih muda lah yang nanti tampil,” ujarnya.

Menatap Pemilu 2029

Tri mengatakan tantangan terbesar bagi kepengurusan Demokrat Karanganyar berikutnya adalah mempersiapkan partai menuju Pemilu 2029.

Target politik yang nantinya ditetapkan oleh jajaran partai akan membutuhkan persiapan panjang. Tri mengatakan Demokrat tidak cukup hanya mempersiapkan diri ketika tahapan pemilu sudah dimulai.

Konsolidasi organisasi, kaderisasi, pembentukan jaringan, hingga penguatan komunikasi digital harus dilakukan sejak awal.

Menurut dia, kepemimpinan baru harus mampu menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi program organisasi yang konkret. “Untuk tantangan lima tahun ke depan itu saya yakin jauh lebih berat,” katanya.

Meski Supriyanto menjadi satu-satunya kader yang mengembalikan berkas pendaftaran, Tri menegaskan belum ada keputusan final mengenai siapa yang akan memimpin DPC Demokrat Karanganyar.

Muscab yang dijadwalkan pada 31 Agustus mendatang menjadi tahapan penting untuk menentukan kepemimpinan Partai Demokrat di tingkat kabupaten.

Dengan demikian, status Supriyanto saat ini adalah calon yang memiliki peluang paling kuat berdasarkan tahapan pendaftaran yang telah berjalan, bukan Ketua DPC definitif.

Sementara itu, tidak dikembalikannya berkas oleh Mubarak membuat persaingan dalam bursa Ketua DPC Demokrat Karanganyar praktis tidak berlangsung dengan dua kandidat hingga tahap akhir pendaftaran.

Situasi tersebut membuat perhatian kader kini tertuju pada Muscab. Selain menentukan ketua baru, forum tersebut juga akan menjadi momentum bagi Demokrat Karanganyar untuk menyusun arah organisasi dalam menghadapi agenda politik lima tahun ke depan.

Bagi Tri Haryadi, estafet kepemimpinan tersebut harus dibarengi dengan perubahan cara kerja partai. Pengalaman kader senior tetap diperlukan, tetapi energi, kreativitas, dan kemampuan generasi muda juga harus menjadi bagian dari strategi Demokrat.

Jika Muscab berjalan sesuai mekanisme organisasi dan tidak muncul kandidat lain dalam tahapan berikutnya, Supriyanto berada di posisi terdepan untuk mengambil alih kepemimpinan DPC Demokrat Karanganyar.

Estafet dari Tri Haryadi kepada generasi berikutnya pun bukan sekadar pergantian nama di kursi ketua. Di baliknya ada target yang jauh lebih besar, yakni membangun kembali mesin partai, memperkuat kaderisasi, memperluas jaringan, dan membawa Demokrat Karanganyar lebih siap menghadapi pertarungan politik menuju 2029.

Leave a Reply