Jenazah PMI Jepang Tiba di Rumah Duka Padas Sragen, Disambut Tangis

Jenazah PMI Jepang Tiba di Rumah Duka Padas Sragen, Disambut Tangis
Para warga mengangkat jenazah PMI yang meninggal di Jepang ke makam dalam prosesi pemakaman di Dukuh Karangturi, Desa Padas, Tanon, Sragen, Sabtu (22/8/2026)

Nusatime.com, SRAGEN—Tangis keluarga pecah begitu ambulans dari Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah tiba di rumah duka di Dukuh Karangturi RT 001, Desa Padas, Kecamatan Tanon, Sragen, Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Jenazah pekerja migran Indonesia (PMI), Galang Satrio Priambodo, 25, yang berada di dalam peti jenazah berwarna putih langsung dibawa masuk ke rumah duka. Warga kemudian menyalatkan dan membacakan tahlil untuk Galang yang meninggal dunia setelah tenggelam di sungai di Aichi, Jepang, Jumat (14/8/2026).

Kedatangan jenazah Galang menjadi momen yang sudah dinanti keluarga selama sepekan sejak kabar duka diterima. Setelah proses pemulangan dari Jepang, jenazah akhirnya tiba di kampung halaman dan langsung dimakamkan pada Sabtu siang.

Adik kandung Galang dan ayahnya, Widiyatmoko, terlihat sangat bersedih atas kepergian Galang. Mata mereka masih memerah setelah banyak air mata tercurah. Widiyatmoko mengantarkan jenazah anak sulungnya hingga ke peristirahatan terakhir.

Proses pemakaman sempat tertunda beberapa menit karena penggalian liang belum selesai. Widiyatmoko tetap bersabar menunggu hingga liang lahat siap. Ia hanya terdiam sembari berdiri di dekat warga yang bergotong royong mempercepat proses penggalian kubur.

Saat peti jenazah diturunkan dari ambulans dan jenazah perlahan dimasukkan ke liang, Widiyatmoko tetap tenang mengikuti prosesi tersebut. Ia tidak berbicara sedikit pun hingga lantunan doa terdengar. Widiyatmoko kemudian menaburkan bunga ke liang makam anaknya.

Tujuh Tahun Bekerja di Jepang

Widiyatmoko mendapat kabar kepergian Galang pada Jumat waktu Magrib dari rekan kerja anaknya. Ia mendapat informasi bahwa Galang meninggal dunia karena tenggelam saat bermain bersama temannya seusai Salat Jumat.

Widiyatmoko dan istrinya, Parmi, mengaku tidak mendapat firasat apa pun sebelum kabar duka tersebut datang. Justru paman Galang yang mengaku mendapat mimpi rumahnya ramai oleh orang seperti sedang menggelar hajatan.

Galang dikenal tekun bekerja di sektor pertanian atau perkebunan di Jepang selama tujuh tahun. Selama bekerja di Negeri Sakura, korban baru sekali pulang ke rumah, yakni pada 2022 selama dua bulan.

Rencananya, Galang akan menikah pada tahun depan. Namun, rencana tersebut kini tinggal kenangan bagi keluarga yang harus mengantarkan anak sulung mereka ke peristirahatan terakhir.

Ratusan warga datang bertakziah ke rumah duka. Tidak ada seremonial khusus dalam pemakaman Galang. Hanya sepatah kata dari sesepuh dukuh yang mewakili keluarga almarhum untuk menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada warga yang datang bertakziah.

Camat Tanon dan perangkat desa juga terlihat hadir. Petugas dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen turut mendampingi petugas penjemputan jenazah dari BP3MI Jawa Tengah hingga ke rumah duka.

Petugas Pengantar Kerja Disnaker Sragen, Ernawan, menyampaikan proses penjemputan jenazah dari Bandara Adi Soemarmo Solo sampai ke rumah duka berjalan lancar. Dia menyampaikan penjemputan jenazah menjadi tanggung jawab Disnaker dan seluruh pelayanan tersebut gratis.

Ernawan juga berencana mengajukan tali asih dari Pemkab Sragen kepada keluarga yang berduka.

“Kami tadi sekalian takziah. Kami ikut berdoa semoga jenazah almarhum ditempatkan di surganya Allah. Terkait dengan proses pemulangan dari Jepang ke Indonesia, saya tidak tahu. Mungkin dari perusahaan. Kami memfasilitasi penjemputan jenazah dari bandara sampai ke rumah duka,” jelas dia.

Kepulangan Galang ke Padas menjadi akhir dari penantian panjang keluarga selama sepekan. Di rumah duka, doa dan tahlil mengiringi jenazah sebelum akhirnya dimakamkan di tanah kelahirannya.

Leave a Reply