Nusatime.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi, telah menyurati para kepala sekolah di 35 kabupaten/kota dan memperingatkan agar tak ada lagi kasus perundungan atau bullying. Langkah tersebut sebagai respons atas kasus perudungan siswa SD di Kabupaten Pemalang hingga meninggal dunia.
“Saya sudah perintahkan dinas, jadi di tempat kita, seluruh sekolah, harus zero bullying,” tegas Luthfi seusai kegiatan di Kota Semarang, Rabu (7/10/2026).
Luthfi mengimbau sekolah agar mengedepankan lagi edukasi perihal perundungan kepada para siswa. Sehingga pencegahan dini bisa dilakukan sebelum kasus muncul.
“Maka seluruh kepala sekolah sudah kita surati. Tidak ada lagi kejadian seperti kemarin di Pemalang,” ucapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jateng, Uswatun Hasanah, mengungkapkan sepanjang 2025 ada 234 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan sekolah. Kendati demikian, sepanjang 2021-2025, pihaknya hanya menangani 12 kasus kekerasan perempuan dan anak.
Meski ada 243 kasus, Menurut Uswatun, data tersebut tidak dapat langsung menggambarkan seluruh kasus kekerasan yang terjadi di Jateng. Sebab, penanganan korban sebagian besar dilakukan oleh unit pelayanan di tingkat kabupaten/kota.
“Di provinsi yang kita tangani tahun 2021 itu hanya tiga kasus, kemudian 2022 empat kasus, 2023 lima kasus, 2024 tiga, 2025 tiga,” kata Uswatun.
Kasus yang ditangani langsung oleh tingkat provinsi, terang Uswatun, umumnya merupakan kasus yang dirujuk oleh Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) kabupaten/kota ketika membutuhkan dukungan lebih lanjut. Sebagai upaya mencegah kekerasan terhadap anak, DP3AKB Jateng mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan menyenangkan, salah satunya dengan melibatkan siswa dalam upaya pencegahan kekerasan.
Uswatun menilai pelibatan OSIS, Forum OSIS, maupun Forum Anak penting karena anak cenderung lebih mudah menyampaikan persoalan kepada teman sebaya. Kendati demikian, pencegahan kekerasan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah, sehingga peran keluarga dan lingkungan masyarakat juga diperlukan.
“Anak-anak ini seusia itu lebih percaya curhat dan lain-lain itu kepada temannya sendiri. Maka perlu diciptakan lingkungan yang benar-benar menyenangkan di sekolah,” tuturnya.
Uswatun juga menilai pendidikan di rumah menjadi fondasi utama. Kemudian sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas guru agar mampu memahami persoalan anak yang terus berkembang.
“Ini tidak bisa sendiri, tentu harus kerja sama dengan Dinas Pendidikan, dengan keluarga,” sambungnya.

Leave a Reply