Tuntutan Peternak Magetan Dikabulkan, Menu MBG dengan Telor Jadi 3 Kali Sepekan

Tuntutan Peternak Magetan Dikabulkan, Menu MBG dengan Telor Jadi 3 Kali Sepekan
Para peternak telur saat membagikan 3 ton telur sebagai bentuk protes harga anjlok dan serapan MBG minim, Selasa (6/5/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, MAGETAN — Aksi protes peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Selasa (6/5/2026) mulai membuahkan hasil. Pemerintah daerah bersama Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) sepakat menambah frekuensi menu telur dalam program MBG menjadi hingga tiga kali dalam sepekan demi mendongkrak serapan telur peternak lokal.

Sebelumnya, para peternak ayam petelur di Magetan menggelar aksi protes dengan membagikan sekitar tiga ton telur gratis kepada masyarakat di Alun-alun Magetan. Massa kemudian bergerak ke kantor Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Magetan untuk menyampaikan keresahan terkait minimnya serapan telur lokal oleh program MBG.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat koordinasi yang melibatkan pemerintah daerah, Satgas MBG, serta sejumlah pemangku kepentingan sektor pangan, Kamis (7/5/2026). Kebijakan itu diambil menyusul aksi peternak yang menyoroti anjloknya harga telur yang kini berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.

Perwakilan Satgas MBG Magetan, Awang Arifani, mengatakan selama ini menu telur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru diberikan satu hingga dua kali dalam sepekan. Mulai pekan depan, frekuensi tersebut akan ditambah menjadi maksimal tiga kali.

“Yang selama ini ada yang satu kali dan dua kali menu telur dalam seminggu, tadi disepakati ditambah lagi satu kali. Diupayakan bisa sampai tiga kali dalam seminggu,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Ia menjelaskan, penambahan menu telur diperkirakan akan meningkatkan penyerapan produksi telur lokal secara signifikan. Saat ini terdapat 65 SPPG aktif di Magetan dan dalam waktu dekat dua unit tambahan akan kembali beroperasi.

Dengan rata-rata satu SPPG melayani sekitar 2.500 porsi makanan per hari, kebutuhan telur diprediksi melonjak jika menu telur diperbanyak.

Selain optimalisasi program MBG, Pemkab Magetan juga menyiapkan langkah lain untuk membantu peternak, salah satunya mendorong aparatur sipil negara (ASN) membeli telur lokal minimal satu kilogram per orang. Program tersebut diprioritaskan untuk membantu peternak kecil dengan populasi di bawah 20.000 ekor ayam.

“Kalau satu SPPG melayani 2.500 porsi dan menu telurnya ditambah, tentu serapannya akan luar biasa,” jelasnya.

Kebijakan itu muncul setelah harga telur di tingkat peternak terus merosot hingga kisaran Rp22.000 per kilogram, jauh di bawah HAP pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram. Di sisi lain, harga pakan ternak masih tinggi sehingga banyak peternak mengaku merugi.

Kepala bidang pangan Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Magetan itu menyebut penurunan harga telur tidak hanya terjadi di Magetan, tetapi juga secara nasional dan tengah dibahas di tingkat kementerian.

“Ini bukan wilayah Magetan saja, secara nasional memang harga telur sedang turun dan sedang dibahas juga di tingkat kementerian,” ujarnya.

Tak hanya menambah serapan telur, pemerintah juga menyiapkan bantuan jagung murah untuk peternak kecil. Mulai bulan depan, peternak di Magetan akan mendapat akses jagung dari Bulog dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

Magetan disebut memperoleh kuota sekitar 7.000 ton jagung yang akan disalurkan melalui koordinasi bersama koperasi peternak dan dinas terkait.

“Ini bagian dari upaya agar peternak tetap bisa bertahan di tengah harga telur yang rendah,” pungkasnya.

Leave a Reply