Virus Campak Merebak, 10 Sampel Suspek di Magetan Dikirim ke Surabaya

Virus Campak Merebak, 10 Sampel Suspek di Magetan Dikirim ke Surabaya
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Suwantyo saat memberikan keterangan, Rabu (11/3/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Nusatime.com, MAGETAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan mencatat ada 10 kasus yang terindikasi terjangkit campak di tengah merebaknya virus tersebut di Indonesia pada awal tahun 2026. Jumlah itu tersebar di 8 kecamatan yang kini terus dipantau ketat oleh otoritas kesehatan setempat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Magetan, Suwantyo, menyampaikan pihaknya telah mendeteksi sedikitnya 10 orang yang berstatus suspek karena terindikasi terjangkit virus campak hingga pekan ke-9 tahun 2026. Ia menyebut, para suspek tersebut tersebar di 8 wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Magetan.

“Di Indonesia memang sedang merebak virus campak ini, untuk Magetan sendiri hingga saat ini belum ditemukan kasus positif campak, tetapi untuk suspek ada 10 orang dari berbagai kelompok usia,” ujarnya Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan, jumlah suspek yang terdeteksi tersebut saat ini telah dipantau ketat oleh pihak Puskesmas masing-masing dan sampel darah dari para suspek telah diambil guna dilaksanakan penelitian lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya guna mengetahui penyebab pasti keluhan kesehatan yang dikeluhkan para suspek tersebut.

Suwantyo menambahkan, penyakit campak bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Pada sebagian kasus, campak bisa menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis) pada anak kecil atau orang dengan daya tahan tubuh lemah. Oleh karena itu, ketika kasusnya meningkat seperti sekarang, penting bagi masyarakat, termasuk orang dewasa yang merasa sudah divaksin, untuk kembali memahami penyakit ini dengan benar.

“Untuk tahun 2025 kemarin kita mencatat ada 43 suspek yang terdeteksi. Dari jumlah itu, 3 orang dinyatakan positif campak. Karena kembali merebak, kami akan memasifkan sosialiasi melalui flayer-flayer dan imbauan penerapan pola hidup bersih dan sehat [PHBS],” jelasnya.

Meski demikian, Kabid P2P Dinkes Magetan itu mengakui ada sejumlah masyarakat yang justru menolak untuk diberi imunisasi campak. Hal itu menurutnya disebabkan ketakutan yang tidak berdasar dan kepercayaan yang dianut.

Ia menyatakan, petugas di lapangan akan terus meningkatkan sosialisasi dan screening guna deteksi dini penyakit ini. Terlebih, momentum hari raya Idulfitri juga menjadi sarana penyebaran virus campak yang bisa menular lewat udara (airbone) ini.

“Ada yang menolak, tapi tidak banyak. Apalagi momentum lebaran besok ya, itu kan pastinya banyak masyarakat dari berbagai elemen yang berkumpul. Itu menjadi perhatian serius kami, jika merasakan keluhan batuk, pilek dan sebagainya yang diperkirakan mirip dengan campak diharapkan untuk segera memeriksakan ke pelayanan kesehatan terdekat,” kata dia.

Leave a Reply