Nusatime.com, SOLO — Sejumlah umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Pura Indra Prasta, Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, Kamis (19/3/2026).
Di antaranya Ketua PHDI Kota Solo I Wayan Tudy Subawa, Bendahara I Ketut Sukarda, Pandita Ida Bagus Komang Suarnawa, serta umat lainnya. Mereka menjalani tapa brata selama 24 jam hingga Jumat (20/3/2026) pagi.
Catur Brata Penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja dan bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Umat Hindu memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa, introspeksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Suasana di Pura Indra Prasta berlangsung tenang dan khusyuk, meskipun berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang juga sedang menjalankan ibadah puasa.
Kampung Mutihan sendiri dikenal sebagai Kampung Pancasila sejak 2022, dengan keberagaman agama seperti Islam, Hindu, dan Kristiani yang hidup berdampingan secara harmonis.
Wayan Tudy Subawa menjelaskan Nyepi tahun ini mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti satu bumi satu keluarga.
“Tema ini mengandung makna persatuan, toleransi, introspeksi diri, dan harmoni. Kita semua bersaudara tanpa melihat perbedaan,” ujarnya.
Ia menambahkan harmoni tersebut tercermin dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Sebelum Nyepi, umat Hindu Solo telah menjalani serangkaian ritual, mulai dari Melasti di Pengging, Boyolali, hingga Tawur Agung Kesanga di kawasan Candi Prambanan.
Selanjutnya, umat menjalani Catur Brata Penyepian sebagai bentuk evaluasi diri untuk memperbaiki kesalahan di tahun sebelumnya.
Rangkaian Nyepi akan ditutup dengan Dharma Santi atau silaturahmi antarumat.
Wayan menyebut jumlah umat Hindu di Solo sekitar 300 orang, namun hanya sekitar 20% yang merayakan Nyepi di Solo, sementara lainnya memilih melaksanakan di Bali.
Ia juga menekankan tingginya toleransi antarumat beragama di Solo, yang terlihat dari kegiatan berbagi takjil oleh umat Hindu kepada umat Muslim sebelumnya.
“Tidak ada konflik, justru saling menghormati. Ini menjadi contoh kerukunan yang sangat baik,” ujarnya.

Leave a Reply